Akar Penyakit Hati sebagai Perusak Amal: Riya, Sum’ah, dan Kesombongan
Ahmad zuhdi
Ahad, 12 Juli 2026 - 16:16 WIB
Akar Penyakit Hati sebagai Perusak Amal: Riya, Sumah, dan Kesombongan
Di era digital hari ini, batas antara ruang privasi dan ruang publik nyaris tidak ada sekat. Setiap aktivitas, mulai dari hal remeh hingga urusan ibadah, begitu mudah dikemas dan disiarkan demi mendulang tombol suka, komentar, hingga pengakuan sosial.
Shalat malam, bacaan Al-Qur'an, hingga aksi filantropi kini dengan gampang berpindah menjadi konten yang berseliweran di linimasa. Fenomena ini menghadirkan sebuah tantangan yang sangat mendasar mengenai masih beradakah ruang bagi keikhlasan ketika semua hal seolah dituntut untuk dipertontonkan.
Tantangan ini sejatinya telah diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW sejak empat belas abad silam untuk mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam panggung ibadah yang justru berujung nestapa.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan bahwa siapa saja yang memperdengarkan amalnya kepada orang lain, maka Allah akan memperdengarkan bahwa amal tersebut bukan untuk-Nya. Begitu pula bagi siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aib bahwa amalan tersebut sebenarnya kosong dari keikhlasan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Shalat malam, bacaan Al-Qur'an, hingga aksi filantropi kini dengan gampang berpindah menjadi konten yang berseliweran di linimasa. Fenomena ini menghadirkan sebuah tantangan yang sangat mendasar mengenai masih beradakah ruang bagi keikhlasan ketika semua hal seolah dituntut untuk dipertontonkan.
Tantangan ini sejatinya telah diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW sejak empat belas abad silam untuk mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam panggung ibadah yang justru berujung nestapa.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan bahwa siapa saja yang memperdengarkan amalnya kepada orang lain, maka Allah akan memperdengarkan bahwa amal tersebut bukan untuk-Nya. Begitu pula bagi siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aib bahwa amalan tersebut sebenarnya kosong dari keikhlasan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: