Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 12 Juli 2026
home masjid detail berita

Akar Penyakit Hati sebagai Perusak Amal: Riya, Sumah, dan Kesombongan

ahmad zuhdi Ahad, 12 Juli 2026 - 16:16 WIB
Akar Penyakit Hati sebagai Perusak Amal: Riya, Sumah, dan Kesombongan
LANGIT7.ID-Jakarta; - Di era digital hari ini, batas antara ruang privasi dan ruang publik nyaris tidak ada sekat. Setiap aktivitas, mulai dari hal remeh hingga urusan ibadah, begitu mudah dikemas dan disiarkan demi mendulang tombol suka, komentar, hingga pengakuan sosial.



Shalat malam, bacaan Al-Qur'an, hingga aksi filantropi kini dengan gampang berpindah menjadi konten yang berseliweran di linimasa. Fenomena ini menghadirkan sebuah tantangan yang sangat mendasar mengenai masih beradakah ruang bagi keikhlasan ketika semua hal seolah dituntut untuk dipertontonkan.



Tantangan ini sejatinya telah diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW sejak empat belas abad silam untuk mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam panggung ibadah yang justru berujung nestapa.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan bahwa siapa saja yang memperdengarkan amalnya kepada orang lain, maka Allah akan memperdengarkan bahwa amal tersebut bukan untuk-Nya. Begitu pula bagi siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aib bahwa amalan tersebut sebenarnya kosong dari keikhlasan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Siapa yang memperdengarkan amalannya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah).” (HR Bukhari).

Hadis ini menunjuk langsung pada dua penyakit hati yang kerap merusak pahala manusia secara halus, yaitu riya dan sum’ah. Kedua penyakit hati ini memiliki kesamaan motif namun berbeda pintu masuk.



Riya adalah tindakan memperlihatkkan ibadah agar terlihat mengagumkan saat dilihat orang lain, seperti memperlama sujud hanya ketika di masjid yang ramai, atau sengaja memotret tumpukan sembako yang hendak dibagikan agar dicap sebagai sosok yang peduli sesama.



Sementara itu, sum’ah terjadi ketika seseorang bercerita atau mengemas narasi tentang amal tersembunyi yang telah ia lakukan demi mendengarkan pujian, kekaguman, atau ulasan positif dari orang lain. "Terkait hal ini, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa balasan Allah terhadap pelaku riya dan sum'ah ini bersifat timbal balik, di mana panggung pujian yang diburu di dunia akan diubah oleh Allah menjadi panggung kehinaan di akhirat dengan dibongkarnya kepalsuan niat tersebut di hadapan seluruh makhluk," kata Dosen IAIPI Bandung, Ustaz Robi Permana, Ahad (12/7/2026).

Ironi dari rusaknya niat ini digambarkan secara mengerikan dalam sebuah hadis panjang riwayat Imam Muslim mengenai pengadilan hari kiamat. Banyak orang berpikir bahwa penghuni neraka pertama adalah para pelaku dosa besar, namun sejarah akhirat mencatat hal yang sangat berbeda. Tiga orang pertama yang diseret atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam api neraka justru merupakan sosok-sosok yang di dunia memiliki reputasi luar biasa mulia secara lahiriah.

Sosok pertama adalah seorang pejuang mati syahid yang mengaku bertempur habis-habisan di medan perang demi membela agama Allah. Namun Allah menyangkal klaim tersebut karena ia berperang hanya demi gelar pahlawan yang gagah berani, dan pujian itu telah habis ia dapatkan di dunia.



Nasib tragis yang sama menimpa seorang cendekiawan atau ulama dan pembaca Al-Qur'an yang mengaku menghabiskan hidupnya untuk menuntut ilmu serta mengajarkannya demi Allah. Niat aslinya dibongkar bahwa ia melakukan itu semua hanya agar dihormati sebagai orang alim yang hebat.



Sosok terakhir yang ikut diseret adalah seorang dermawan filantropis yang mengklaim tidak pernah melewatkan satu pun kesempatan bersedekah demi mencari rida Allah, padahal hakikatnya ia hanya berinfak demi sebuah reputasi sebagai sosok yang dermawan. Ketiganya memiliki kesamaan nasib karena menuntut upah pahala kepada Allah, padahal saat di dunia mereka bekerja untuk mendapatkan penilaian manusia.

"Penyakit hati ini tidak berhenti pada riya dan sum’ah saja, karena ketika pujian manusia berhasil dipanen, ego manusia biasanya akan melambung menjadi kesombongan. Rasulullah SAW mengingatkan dengan tegas bahwa kesombongan, meski hanya sebesar biji sawi di dalam hati, menjadi dinding penghalang seseorang untuk masuk ke dalam surga," ujar Ustaz Robi.

Lebih dari itu, kehancuran amal juga bisa terjadi setelah ibadah selesai dilakukan melalui sikap mengungkit-ungkit pemberian serta menyakiti perasaan orang yang menerima kebaikan. Allah SWT sendiri telah mengingatkan dalam Al-Qur'an agar orang-orang beriman tidak membatalkan pahala sedekah mereka dengan cara mengungkit dan menyakiti. Hal ini membuktikan bahwa besarnya volume sebuah amalan sama sekali tidak menjamin ia akan diterima di sisi Allah jika tidak dibersamai dengan pemeliharaan akhlak hingga akhir hayat.

Pada akhirnya, keikhlasan adalah hal yang harus diperjuangkan setiap detik, karena menjaga niat agar tetap murni ibarat merawat lentera di tengah badai yang mudah padam oleh embusan pujian maupun kritikan manusia. "Sebagai langkah nyata agar amal tidak berujung menjadi bumerang yang mencelakakan, kita harus membiasakan diri untuk menyembunyikan amal saleh sebisa mungkin dari konsumsi publik, sebagaimana kita menyembunyikan aib-aib pribadi kita," ujarnya.

"Kita juga perlu mengurangi ketergantungan pada validasi manusia, sebab pujian tidak menambah mulia di mata Allah, dan cacian tidak akan menurunkan derajat jika kita benar di jalan-Nya. Sembari berikhtiar, kita juga dituntut untuk terus merutinkan doa memohon perlindungan dari kesyirikan yang samar agar diselamatkan dari menyekutukan Allah dalam keadaan tahu maupun tidak tahu," pungkasnya.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 12 Juli 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:55
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan