LANGIT7.ID-Jakarta; Harapan Swiss untuk menantang juara bertahan Argentina di perempat final Piala Dunia berubah menjadi kekecewaan besar setelah keputusan Video Assistant Referee (VAR) memicu kontroversi. Penyerang Breel Embolo harus meninggalkan lapangan lebih cepat akibat penerapan aturan "mistaken identity", membuat Swiss bermain dengan 10 orang selama 67 menit sebelum akhirnya tersingkir.
Pelatih Swiss, Murat Yakin, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap keputusan tersebut.
"Itu benar-benar tidak bisa dipahami. Saya tahu mereka akan melindungi wasit mereka, tetapi aturan ini menghancurkan pertandingan hari ini," kata Yakin.
Insiden kartu merah itu menutup rangkaian momen dramatis yang mengubah jalannya pertandingan. Setelah laga berjalan cukup datar, Swiss berhasil menyamakan kedudukan melalui Dan Ndoye pada menit ke-67 dan mulai tampil lebih percaya diri. Namun, hanya lima menit berselang, situasi berubah drastis setelah VAR melakukan peninjauan.
Momen krusial terjadi ketika gelandang Argentina, Leandro Paredes, melakukan tekel terhadap Embolo yang sedang membawa bola ke depan. Wasit asal Portugal, João Pinheiro, awalnya memberikan kartu kuning kepada Paredes atas pelanggaran tersebut.
Menurut Yakin, keputusan awal itu pun sebenarnya sudah tidak tepat.
"Pertama-tama, sama sekali tidak ada alasan untuk memberikan kartu kuning. Saya tidak mengerti, itu situasi yang tidak berbahaya," ujarnya.
Gelandang Swiss, Remo Freuler, juga melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan wasit.
"Ini benar-benar bencana. Saya tidak tahu apa yang dilakukan wasit di sini. Saya juga tidak mengerti mengapa dia dipanggil untuk melihat situasi seperti ini, padahal ada banyak pelanggaran serupa di babak pertama. Mungkin semua itu juga harus diberi kartu kuning," kata Freuler.
Setelah meninjau tayangan ulang, video assistant referee Guillermo Pacheco Larios merekomendasikan pemeriksaan dengan dasar aturan "mistaken identity". Dari tayangan tersebut terlihat Embolo sudah lebih dulu menjatuhkan diri sebelum terjadi kontak dengan Paredes.
Hasil peninjauan membuat keputusan berubah. Pelanggaran yang semula dianggap dilakukan Paredes diubah menjadi aksi simulasi oleh Embolo. Kedua pelanggaran sama-sama berujung kartu kuning.
Masalahnya, Embolo sebelumnya sudah menerima kartu kuning pada babak pertama setelah melakukan pelanggaran terhadap Paredes menjelang turun minum. Akibat kartu kuning kedua itu, Embolo langsung diusir keluar lapangan.
"Keputusan itu sangat menentukan hasil akhir pertandingan," ujar Yakin.
Freuler kembali mempertanyakan campur tangan VAR dalam situasi tersebut.
"Saya tidak mengerti bagaimana VAR bisa mengubah pertandingan dengan situasi seperti ini. Biarkan saja wasit mengambil keputusan di lapangan," katanya.
Keputusan tersebut memicu kemarahan di bangku cadangan Swiss setelah diumumkan melalui pengeras suara Stadion Kansas City. Di sisi lain, mayoritas pendukung Argentina yang memenuhi stadion menyambutnya dengan sorak-sorai.
Embolo termasuk pemain yang langsung mengerumuni Pinheiro sambil memprotes keputusan tersebut. Penyerang Swiss itu akhirnya tidak mampu membendung emosinya, menangis saat meninggalkan lapangan dan harus didampingi beberapa rekan setim menuju ruang ganti.
"Anda bisa membayangkan bagaimana kondisinya sekarang. Dia sangat terpukul. Dia tidak bisa membantu tim hari ini. Ini menyakitkan bagi kami dan juga baginya. Itu adalah kesalahan wasit," kata Yakin.
Aturan "mistaken identity" sebenarnya sudah menjadi dasar peninjauan VAR sejak teknologi tersebut pertama kali digunakan. Namun, sebelumnya aturan itu hampir selalu diterapkan pada kasus yang jelas, misalnya ketika wasit memberikan kartu kepada pemain yang salah, sementara pelanggaran sebenarnya dilakukan rekan setimnya.
Penerapannya berubah pada Piala Dunia 2026 setelah International Football Association Board (Ifab), badan yang menetapkan peraturan sepak bola dunia, memperluas definisi aturan tersebut. Dalam pembaruan terbaru menjelang turnamen, "mistaken identity" juga dapat diterapkan ketika seorang pemain menerima kartu, tetapi pelanggaran sebenarnya dilakukan oleh pemain dari tim lawan.
Yakin mengaku baru mengetahui perubahan aturan itu setelah pertandingan usai. Meski demikian, ia tetap mengecam penerapannya.
"Menurut saya, aturan ini tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Pengenalan aturan seperti ini sama sekali tidak perlu. Ini benar-benar sangat menyakitkan," ujarnya.
Laga Swiss kontra Argentina menjadi kali kedua aturan "mistaken identity" diterapkan dengan cara tersebut di Piala Dunia 2026. Sebelumnya, situasi serupa terjadi pada pertandingan pembuka Amerika Serikat melawan Paraguay.
Saat itu, bek Amerika Serikat Tim Ream awalnya menerima kartu kuning karena dianggap melanggar Miguel Almirón. Namun setelah VAR melakukan pemeriksaan berdasarkan aturan "mistaken identity", wasit menyimpulkan bahwa Almirón sebenarnya melakukan simulasi. Kartu kuning untuk Ream pun dibatalkan dan dialihkan kepada Almirón.
Penerapan aturan tersebut sempat menuai perdebatan, meski FIFA kemudian menegaskan keputusan itu sudah sesuai regulasi.
Baca juga: Julian Alvarez Jadi Pahlawan, Argentina Singkirkan 10 Pemain Swiss dan Tantang Inggris di SemifinalKontroversi pada laga Argentina melawan Swiss diperkirakan akan mendapat sorotan lebih besar karena terjadi pada fase perempat final sekaligus berdampak langsung terhadap jalannya pertandingan. Argentina memperoleh keuntungan jumlah pemain ketika mulai kehilangan kendali permainan, sementara Swiss harus menjalani seluruh babak perpanjangan waktu hanya dengan 10 pemain.
Pertahanan Swiss yang mulai kelelahan akhirnya kebobolan dua gol dalam rentang sembilan menit, sehingga harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia.
(lam)