LANGIT7.ID-Jakarta; Argentina memastikan langkah ke semifinal Piala Dunia setelah menundukkan Swiss dengan skor 2-1 lewat drama babak perpanjangan waktu. Gol spektakuler Julián Álvarez menjadi penentu kemenangan setelah Albiceleste sempat dipaksa bekerja keras menghadapi perlawanan sengit Swiss yang bermain dengan 10 orang.
Laga yang semula tampak akan berjalan mudah bagi Argentina berubah menjadi pertarungan penuh ketegangan. Saat pertandingan tampak mengarah ke adu penalti pada babak tambahan waktu kedua, momen ajaib akhirnya datang.
Bukan Lionel Messi yang menjadi pembeda kali ini. Setelah peluangnya baru saja digagalkan Gregor Kobel, Swiss gagal menyapu bola dengan sempurna. José López yang baru masuk menguasai bola di sisi kiri sebelum mengirim umpan ke belakang kepada Julián Álvarez, yang sepanjang pertandingan nyaris tak terlihat.
Dari jarak sekitar 22 yard, Álvarez melepaskan tendangan melengkung keras yang berbelok melewati jangkauan Kobel sebelum bersarang di sudut atas gawang. Gol luar biasa itu bukan hanya indah secara teknik, tetapi juga hadir pada momen yang paling menentukan.
Berkat kemenangan tersebut, Argentina akan menghadapi Inggris di semifinal pada Rabu. Empat puluh tahun setelah gol "Hand of God" mengguncang dunia sepak bola, Messi akhirnya akan menjalani duel langka melawan Inggris di Piala Dunia.
Gol Álvarez bahkan mengingatkan pada aksi Sidny Lopes Cabral dari Cape Verde yang hampir menyingkirkan Argentina pada babak 32 besar. Meski memiliki kemiripan, penyelesaian Álvarez dinilai lebih mengesankan karena lahir dari jarak yang lebih jauh dan hadir ketika timnya sedang kesulitan.
Kemenangan ini juga menjadi penghormatan yang layak bagi mantan kapten legendaris Argentina, Antonio Rattin, yang meninggal dunia pada usia 89 tahun.
Lautaro Martínez kemudian memastikan kemenangan Argentina sesaat sebelum pertandingan usai. Ia memanfaatkan bola muntah setelah tembakan Thiago Almada dalam serangan balik berhasil ditepis Kobel. Dua rekan Messi di lini depan yang sebelumnya kurang bersinar sepanjang turnamen akhirnya tampil menentukan.
Di sisi lain, kekecewaan Swiss begitu terlihat. Setelah sempat tertinggal oleh sundulan Alexis Mac Allister pada awal pertandingan, mereka perlahan meningkatkan intensitas permainan dan akhirnya menyamakan kedudukan lewat Dan Ndoye pada pertengahan babak kedua.
Gol tersebut menjadi buah dari permainan yang semakin berani saat Argentina mulai kehilangan kendali. Albiceleste tampak kesulitan mengembalikan ritme permainan setelah keunggulan mereka sirna.
Namun titik balik pertandingan datang ketika Breel Embolo melakukan tindakan yang berujung petaka.
Sebelumnya ia telah menerima kartu kuning pada babak pertama setelah melakukan pelanggaran keras terhadap Leandro Paredes. Ketika Embolo kembali terjatuh di dekat garis tepi lapangan usai berduel dengan Paredes, wasit João Pinheiro sempat menganggap Paredes melakukan aksi balas dendam dan langsung mengeluarkan kartu kuning.
Keputusan itu kemudian ditinjau melalui VAR. Tayangan ulang menunjukkan Embolo justru sengaja mencari kontak dengan Paredes sehingga keputusan awal dibatalkan berdasarkan aturan baru mengenai "mistaken identity". Kartu kuning Paredes dicabut, sementara Embolo justru menerima kartu kuning kedua karena melakukan simulasi.
Setelah protes mereda, Embolo meninggalkan lapangan sambil menangis. Swiss pun harus melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain dan seolah menyadari peluang besar mereka telah menghilang.
Meski demikian, tim asuhan Murat Yakin tetap memberikan perlawanan luar biasa. Mereka bertahan selama sekitar 50 menit jika waktu tambahan dihitung dan terus menahan gempuran Argentina.
Gol pembuka Argentina sendiri lahir pada menit ke-10. Tendangan sudut Messi disambut sundulan Alexis Mac Allister di tiang dekat tanpa kawalan sehingga Kobel tak mampu menghalau bola.
Messi beberapa kali mencoba membawa timnya kembali unggul. Ia sempat digagalkan Kobel dari jarak dekat dalam situasi yang kemungkinan tetap sah meski bendera offside sempat terangkat. Kapten Argentina itu juga melepaskan tendangan kaki kanan yang melebar tipis ketika waktu normal terus berjalan.
Kobel kembali menunjukkan penyelamatan gemilang saat menggagalkan peluang Lautaro Martínez sehingga pertandingan harus berlanjut ke babak tambahan.
Setelah unggul pada babak pertama, Argentina sebenarnya tampil nyaman. Selain penyelamatan Emiliano Martínez saat menghadapi Embolo, hampir tidak ada ancaman berarti dari Swiss.
Namun situasi berubah setelah turun minum. Swiss meningkatkan tempo permainan dan membuat Argentina kewalahan. Emiliano Martínez harus bekerja keras menepis peluang Dan Ndoye dan Granit Xhaka dalam periode tekanan yang intens.
Ndoye akhirnya mencetak gol penyama kedudukan setelah bekerja sama dengan Ricardo Rodriguez dan menuntaskan peluang dengan tenang.
Memasuki babak perpanjangan waktu, Argentina terlihat kelelahan, frustrasi, dan mulai kehilangan ketenangan. Thiago Almada sempat mengirim bola ke sisi jaring yang membuat sebagian besar pendukung Argentina mengira bola telah masuk, sementara tendangan bebas Messi hanya membentur pagar hidup.
Ketika pertandingan tampak akan ditentukan melalui adu penalti, Julián Álvarez justru muncul sebagai penyelamat. Lewat gol spektakulernya, ia mengukir namanya dalam sejarah dan membawa Argentina melangkah ke semifinal.
Argentina mungkin harus tampil jauh lebih baik saat menghadapi Inggris. Namun jika mereka terus mampu melahirkan momen-momen luar biasa seperti ini, inspirasi semata mungkin kembali menjadi pembeda.
(lam)