MUI: Pendidikan Agama Islam Jadi Garda Terdepan Karakter Bangsa
Ahmad zuhdi
Ahad, 12 Juli 2026 - 16:35 WIB
MUI: Pendidikan Agama Islam Jadi Garda Terdepan Karakter Bangsa
Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi menggelar rangkaian agenda strategis nasional di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/7/2026). Rangkaian kegiatan besar tersebut meliputi Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Focus Group Discussion (FGD) Pendidikan Agama Islam, Seminar Internasional, serta program Kaderisasi Ulama Non-Degree.
Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Dr Kartini, mengungkapkan bahwa Rakernas ini menjadi momentum penting untuk menyinkronkan seluruh program kerja KPK MUI, mulai dari tingkat pusat hingga ke daerah. Langkah ini dinilai strategis guna memperkuat kontribusi nyata MUI dalam pembangunan sistem pendidikan nasional.
"Kami berharap kegiatan ini menghasilkan banyak masukan yang nantinya akan kami bawa dalam Kongres Umat Islam Indonesia," ujar Kartini melalui laman resmi MUI, dikutip Ahad (12/7/2026).
Lebih lanjut, Kartini memaparkan bahwa seminar internasional sengaja digelar untuk memperluas cakrawala berpikir mengenai perkembangan tren pendidikan Islam di tingkat global. Sementara itu, program kaderisasi ulama non-degree dipersiapkan khusus sebagai wadah pembinaan generasi muda agar mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Di samping itu, fokus utama dalam FGD kali ini tertuju pada penguatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Menurut Kartini, guru PAI memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk moral generasi muda. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas guru dan perbaikan tata kelola pendidikan agama menjadi perhatian serius MUI saat ini.
"Pendidikan Agama Islam adalah garda terdepan dalam membina karakter bangsa, terutama anak-anak muda saat ini," tegasnya.
Meski memiliki peran yang vital, Kartini menyoroti sejumlah persoalan klasik yang masih membayangi para pendidik di lapangan. Salah satunya adalah belum optimalnya pengakuan beban kerja bagi guru PAI di Sekolah Islam Terpadu (SIT) dalam proses sertifikasi profesi. Masalah lainnya, rasio jumlah dosen PAI di perguruan tinggi umum (PTU) dinilai masih belum sebanding dengan jumlah mahasiswa yang harus dilayani.
Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Dr Kartini, mengungkapkan bahwa Rakernas ini menjadi momentum penting untuk menyinkronkan seluruh program kerja KPK MUI, mulai dari tingkat pusat hingga ke daerah. Langkah ini dinilai strategis guna memperkuat kontribusi nyata MUI dalam pembangunan sistem pendidikan nasional.
"Kami berharap kegiatan ini menghasilkan banyak masukan yang nantinya akan kami bawa dalam Kongres Umat Islam Indonesia," ujar Kartini melalui laman resmi MUI, dikutip Ahad (12/7/2026).
Lebih lanjut, Kartini memaparkan bahwa seminar internasional sengaja digelar untuk memperluas cakrawala berpikir mengenai perkembangan tren pendidikan Islam di tingkat global. Sementara itu, program kaderisasi ulama non-degree dipersiapkan khusus sebagai wadah pembinaan generasi muda agar mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Di samping itu, fokus utama dalam FGD kali ini tertuju pada penguatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Menurut Kartini, guru PAI memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk moral generasi muda. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas guru dan perbaikan tata kelola pendidikan agama menjadi perhatian serius MUI saat ini.
"Pendidikan Agama Islam adalah garda terdepan dalam membina karakter bangsa, terutama anak-anak muda saat ini," tegasnya.
Meski memiliki peran yang vital, Kartini menyoroti sejumlah persoalan klasik yang masih membayangi para pendidik di lapangan. Salah satunya adalah belum optimalnya pengakuan beban kerja bagi guru PAI di Sekolah Islam Terpadu (SIT) dalam proses sertifikasi profesi. Masalah lainnya, rasio jumlah dosen PAI di perguruan tinggi umum (PTU) dinilai masih belum sebanding dengan jumlah mahasiswa yang harus dilayani.