BAZNAS Gelar Forum Fundraising di Bandung, Dorong Profesionalisme Pengelola Zakat
Tim langit 7
Jum'at, 17 Juli 2026 - 14:43 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta; Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat kolaborasi nasional dalam membangun ekosistem fundraiser zakat yang profesional melalui penyelenggaraan BAZNAS Fundraising Forum (BFF).
Forum yang digelar di Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026), tersebut menjadi wadah menyatukan visi BAZNAS dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk meningkatkan kapasitas amil, memperkuat tata kelola penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), serta mendorong pengelolaan zakat yang transparan, adaptif, dan berorientasi pada penguatan kepercayaan publik. Kegiatan tersebut juga diselenggarakan secara daring melalui siaran langsung YouTube BAZNAS TV.
Turut hadir Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., Ketua Yayasan Daarut Tauhid Ir. Bascharul Asana, MBA., serta diikuti oleh amil zakat dari LAZ dan BAZNAS se-Indonesia.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., menyampaikan, dalam pengelolaan ZIS para amil perlu meninggalkan pendekatan penghimpunan yang mengandalkan belas kasihan dan beralih pada strategi yang berbasis keilmuan, kemudahan, serta transparansi.
Menurutnya, praktik penghimpunan yang mengeksploitasi kesusahan tidak sejalan dengan misi dakwah zakat. Sebaliknya, lembaga zakat harus membangun pendekatan yang profesional agar masyarakat terdorong menunaikan zakat karena memahami manfaatnya dan merasakan kebahagiaan dalam berbagi.
“Zakat itu harus dibuat jelas, menarik, dan mudah. Alur ini tidak boleh dibalik. Kita tidak bisa sekadar memaksa atau memelas terlebih dahulu dengan mengatasnamakan zakat, infak, dan sedekah,” ujar Rizaludin dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Ia menegaskan, fundraising merupakan profesi yang memiliki landasan keilmuan, etika, kompetensi, serta standar praktik yang jelas. Karena itu, strategi penghimpunan dana ZIS harus disusun berdasarkan pendekatan yang terukur, bukan sekadar mengandalkan empati sesaat.
Forum yang digelar di Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026), tersebut menjadi wadah menyatukan visi BAZNAS dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk meningkatkan kapasitas amil, memperkuat tata kelola penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), serta mendorong pengelolaan zakat yang transparan, adaptif, dan berorientasi pada penguatan kepercayaan publik. Kegiatan tersebut juga diselenggarakan secara daring melalui siaran langsung YouTube BAZNAS TV.
Turut hadir Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., Ketua Yayasan Daarut Tauhid Ir. Bascharul Asana, MBA., serta diikuti oleh amil zakat dari LAZ dan BAZNAS se-Indonesia.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., menyampaikan, dalam pengelolaan ZIS para amil perlu meninggalkan pendekatan penghimpunan yang mengandalkan belas kasihan dan beralih pada strategi yang berbasis keilmuan, kemudahan, serta transparansi.
Menurutnya, praktik penghimpunan yang mengeksploitasi kesusahan tidak sejalan dengan misi dakwah zakat. Sebaliknya, lembaga zakat harus membangun pendekatan yang profesional agar masyarakat terdorong menunaikan zakat karena memahami manfaatnya dan merasakan kebahagiaan dalam berbagi.
“Zakat itu harus dibuat jelas, menarik, dan mudah. Alur ini tidak boleh dibalik. Kita tidak bisa sekadar memaksa atau memelas terlebih dahulu dengan mengatasnamakan zakat, infak, dan sedekah,” ujar Rizaludin dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Ia menegaskan, fundraising merupakan profesi yang memiliki landasan keilmuan, etika, kompetensi, serta standar praktik yang jelas. Karena itu, strategi penghimpunan dana ZIS harus disusun berdasarkan pendekatan yang terukur, bukan sekadar mengandalkan empati sesaat.