LANGIT7.ID-Stockholm; Gejolak ekonomi dan terjadinya tren switching ke kendaraan listrik, membawa dampak signifikan bagi dunia otomotif. Volvo misalnya, Cars asal Swedia pada Jumat (17/7) telah melaporkan penurunan laba pada kuartal kedua dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini. Namun, produsen mobil tersebut berharap dapat mempercepat pemulihannya melalui pengiriman model listrik baru EX60 ke depan.
Perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Geely Holding asal China ini membukukan laba operasional sebesar 800 juta kronor Swedia (sekitar Rp1,24 triliun) untuk periode April–Juni, lebih rendah dibandingkan 1,6 miliar kronor (sekitar Rp2,48 triliun) yang dilaporkan pada kuartal pertama tahun ini.
Volvo Cars menyatakan masih yakin margin keuntungan mereka akan meningkat di paruh kedua tahun ini seiring dengan meningkatnya produksi SUV unggulan baru EX60 secara penuh.
"Volvo Cars memperkirakan penjualan akan jauh lebih kuat di paruh kedua tahun ini dibandingkan paruh pertama, didorong oleh pertumbuhan di Eropa, pemulihan yang berkelanjutan di Amerika Serikat, serta pasar China yang tetap menantang," ujar CEO Volvo Cars, Hakan Samuelsson, dalam sebuah pernyataan.
Perusahaan tahun lalu meluncurkan program pemangkasan biaya senilai 18 miliar kronor (sekitar Rp27,9 triliun), dan pada Jumat ini menyatakan bahwa mereka telah merealisasikan penghematan tidak langsung sebesar 5 miliar kronor (sekitar Rp7,75 triliun) enam bulan lebih cepat dari jadwal.
Margin bruto, yang menjadi indikator penting bagi investor dan analis untuk menilai dampak tarif perdagangan, tercatat sebesar 16,8%, turun dari 18,5% pada kuartal pertama.(*/saf/the star-reuters)
(lam)