Mengupas Kekekalan Kasih Sayang Ilahi, Ar-Rahman Ar-Rahim
Ahmad zuhdi
Senin, 20 Juli 2026 - 06:01 WIB
Mengupas Kekekalan Kasih Sayang Ilahi, Ar-Rahman Ar-Rahim
Ayat ketiga dalam surat Al-Fatihah, yang berbunyi Ar-Rahman Ar-Rahim, memuat dua sifat agung Allah yang menjadi fondasi pengenalan manusia terhadap penciptanya. Rangkaian kata ini ditempatkan secara presisi setelah penyebutan nama Allah dan sifat rububiyah-Nya sebagai penguasa alam semestadi ayat pertama dan kedua.
ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
"Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."
Melalui susunan tersebut, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Rabb yang melandasi kekuasaan-Nya dengan kasih sayang. Hubungan transendental ini ditegaskan dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, di mana Allah berfirman bahwa ketika seorang hamba membaca ayat ini, Allah dengan bangga menyambutnya dengan berfirman, "Hamba-Ku telah memuji-Ku." Ungkapan tersebut menandai bahwa Ar-Rahman Ar-Rahim merupakan wilayah pujian murni yang menjadi hak mutlak milik Allah semata dalam setengah bagian pertama surat Al-Fatihah.
Secara bahasa atau etimologi, kedua sifat mulia ini berakar dari satu kata yang sama, yakni al-rahmah atau kasih sayang. Kendati lahir dari rumpun kata yang sama, jumhur (mayoritas) ulama sepakat bahwa keduanya memproyeksikan dua dimensi manifestasi yang berbeda.
Sifat Ar-Rahman mengacu pada karakteristik kasih sayang Allah yang bersifat umum, sangat luas, dan melimpah ruah. Dimensi rahmat ini bertebaran tanpa batas di dunia maupun akhirat, serta merengkuh seluruh makhluk hidup tanpa memandang status keimanan mereka, baik manusia yang taat, ingkar, tumbuh-tumbuhan, hingga hewan siberia di ujung bumi. Sifat ini melekat erat pada zat-Nya dan menjadi bukti nyata bahwa keberlangsungan hidup seluruh isi jagat raya digerakkan oleh napas kasih sayang ilahi.
Sebaliknya, sifat Ar-Rahim hadir sebagai penyempurna sekaligus penegas aspek keberlanjutan dari kasih sayang tersebut. Jika sifat pertama berbicara tentang keluasan kuantitas makhluk yang menerima, maka sifat kedua ini menitikberatkan pada kualitas hubungan yang bersifat kekal, spesifik, dan berkesinambungan.
ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
"Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."
Melalui susunan tersebut, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Rabb yang melandasi kekuasaan-Nya dengan kasih sayang. Hubungan transendental ini ditegaskan dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, di mana Allah berfirman bahwa ketika seorang hamba membaca ayat ini, Allah dengan bangga menyambutnya dengan berfirman, "Hamba-Ku telah memuji-Ku." Ungkapan tersebut menandai bahwa Ar-Rahman Ar-Rahim merupakan wilayah pujian murni yang menjadi hak mutlak milik Allah semata dalam setengah bagian pertama surat Al-Fatihah.
Secara bahasa atau etimologi, kedua sifat mulia ini berakar dari satu kata yang sama, yakni al-rahmah atau kasih sayang. Kendati lahir dari rumpun kata yang sama, jumhur (mayoritas) ulama sepakat bahwa keduanya memproyeksikan dua dimensi manifestasi yang berbeda.
Sifat Ar-Rahman mengacu pada karakteristik kasih sayang Allah yang bersifat umum, sangat luas, dan melimpah ruah. Dimensi rahmat ini bertebaran tanpa batas di dunia maupun akhirat, serta merengkuh seluruh makhluk hidup tanpa memandang status keimanan mereka, baik manusia yang taat, ingkar, tumbuh-tumbuhan, hingga hewan siberia di ujung bumi. Sifat ini melekat erat pada zat-Nya dan menjadi bukti nyata bahwa keberlangsungan hidup seluruh isi jagat raya digerakkan oleh napas kasih sayang ilahi.
Sebaliknya, sifat Ar-Rahim hadir sebagai penyempurna sekaligus penegas aspek keberlanjutan dari kasih sayang tersebut. Jika sifat pertama berbicara tentang keluasan kuantitas makhluk yang menerima, maka sifat kedua ini menitikberatkan pada kualitas hubungan yang bersifat kekal, spesifik, dan berkesinambungan.