home masjid

Tafsir Al Fatihah Ayat 6

Mengapa Manusia Harus Memohon Jalan Lurus Setiap Hari?

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:40 WIB
Mengapa Manusia Harus Memohon Jalan Lurus Setiap Hari?
Sebagai puncak permohonan hamba setelah menyatakan pengakuan tauhid pada ayat sebelumnya, Surat Al-Fatihah ayat 6 memuat doa paling bermanfaat bagi keselamatan setiap Muslim. Ayat ini tidak hanya mengajarkan cara memohon petunjuk, tetapi juga mengandung permohonan keteguhan jiwa agar senantiasa berada di atas jalan Islam yang lurus hingga akhir hayat.

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus."

Kata ihdinā berasal dari akar kata ه-د-ي dengan wazn fi'l amr اِفْعِلْ serta ḍamīr nā sebagai objeknya. Secara leksikal, kata ini bermakna memberi petunjuk, membimbing, atau menunjukkan jalan yang benar dengan lemah lembut. Dalam konteks ayat ini, kata tersebut merupakan permohonan hamba kepada Allah ﷻ agar memberikan petunjuk dan bimbingan yang terus-menerus menuju jalan kebenaran, sebagaimana penggunaan bentuk kata turunannya pada Surah Al-Baqarah ayat 2 yang bermakna petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Sementara itu, kata al-ṣirāṭa merupakan bentuk isim dari akar trilateral ص-ر-ط, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama lughah mengenai akar aslinya antara ص-ر-ط atau س-ر-ط, dengan bentuk ṣād sebagai yang paling masyhur dalam qirā'ah. Makna leksikalnya adalah jalan yang jelas dan lebar. Dalam konteks ayat ini, al-ṣirāṭa merujuk pada jalan yang lurus dan benar yang diridai Allah ﷻ, yaitu jalan Islam dan petunjuk-Nya, seperti yang ditegaskan kembali pada Surat Al-Fatihah ayat 7 sebagai jalan orang-orang yang telah diberi nikmat.

Adapun kata al-mustaqīma berasal dari akar kata ق-و-م dengan wazn ism maf'ūl مُسْتَفْعِل dari fi'l istiqāma. Kata ini memiliki makna leksikal sesuatu yang lurus, tidak bengkok, tegak, dan konsisten. Dalam ayat ini, kata tersebut berfungsi menerangkan sifat dari jalan yang dimohonkan, yakni jalan yang lurus, tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri, serta sesuai dengan syariat Allah ﷻ, sejajar dengan perintah untuk tetap lurus sebagaimana tercantum dalam Surah Hūd ayat 112.

Permohonan hidayah menuju al-ṣirāṭ al-mustaqīm menjadi inti doa yang diajarkan Allah kepada hamba-Nya. Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir, Allah berfirman bahwa permohonan ini khusus diperuntukkan bagi hamba-Nya dan Allah akan mengabulkan apa yang dimintanya. Ayat ini merangkum seluruh tujuan hidup seorang Muslim, yaitu memohon bimbingan secara terus-menerus di jalan yang lurus.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya