UNICEF Apresiasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi Kemenag, Dinilai Berdampak Positif
Tim langit 7
Selasa, 21 Juli 2026 - 15:10 WIB
(Dok: Kemenag)
LANGIT7.ID-Jakarta; Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Maniza Zaman, mengapresiasi upaya Kementerian Agama dalam menerjemahkan konsep Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam pendekatan pendidikan yang konkret. Maniza menilai dua program tersebut memberi dampak positif terhadap guru dan peserta didik.
Hal ini disampaikan Maniza saat bertemu Menteri Agama Nasaruddin Umar di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta. Pertemuan ini membahas berbagai isu strategis terkait pendidikan keagamaan, perlindungan anak, serta penguatan kolaborasi dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
UNICEF Indonesia juga mengapresiasi kemitraan dua pihak yang telah lama terjalin dalam memajukan hak dan kesejahteraan anak di Indonesia. Kemitraan itu telah diperkuat dengan Nota Kesepahaman (MoU) 2024–2028 antara UNICEF dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam yang telah menghasilkan berbagai inisiatif bersama. Salah satu perhatian UNICEF adalah berbagai inovasi yang tengah dikembangkan Kementerian Agama, khususnya implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi dalam pendidikan keagamaan.
“Berbagai praktik baik tersebut perlu didokumentasikan, diukur, dan dipromosikan agar dapat menjadi pembelajaran yang lebih luas,” terang Maniza di Jakarta,dikutip Selasa (21/7/2026).
Maniza usul agar ke depan dapat dilakukan penguatan kolaborasi melalui perluasan implementasi Pesantren Ramah Anak dan Madrasah Ramah Anak, pengembangan keterampilan peserta didik madrasah yang responsif gender dan inklusif, dukungan terhadap implementasi Ekoteologi dalam aksi iklim dan pelindungan lingkungan, serta penjajakan pemanfaatan pembiayaan sosial syariah untuk mendukung kesejahteraan anak.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam pertemuan itu kembali memaparkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai fondasi transformasi pendidikan agama yang berorientasi pada pembentukan karakter, spiritualitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. "Jika kita ingin melakukan perubahan nyata dalam karakter anak bangsa, kita harus berani mengubah sistem pendidikannya," ujar Menag.
Menurut Menag, sikap peserta didik tidak akan berubah tanpa perubahan sistem pendidikan yang melandasinya. Karena itu, transformasi pendidikan bertumpu pada integrasi tiga dimensi utama, yakni Tauhid sebagai landasan spiritual, Logos sebagai kemampuan berpikir rasional, serta Ethics sebagai pedoman moral. Ketiga aspek tersebut kemudian diwujudkan dalam Ethos, yakni perilaku nyata yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini disampaikan Maniza saat bertemu Menteri Agama Nasaruddin Umar di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta. Pertemuan ini membahas berbagai isu strategis terkait pendidikan keagamaan, perlindungan anak, serta penguatan kolaborasi dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
UNICEF Indonesia juga mengapresiasi kemitraan dua pihak yang telah lama terjalin dalam memajukan hak dan kesejahteraan anak di Indonesia. Kemitraan itu telah diperkuat dengan Nota Kesepahaman (MoU) 2024–2028 antara UNICEF dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam yang telah menghasilkan berbagai inisiatif bersama. Salah satu perhatian UNICEF adalah berbagai inovasi yang tengah dikembangkan Kementerian Agama, khususnya implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi dalam pendidikan keagamaan.
“Berbagai praktik baik tersebut perlu didokumentasikan, diukur, dan dipromosikan agar dapat menjadi pembelajaran yang lebih luas,” terang Maniza di Jakarta,dikutip Selasa (21/7/2026).
Maniza usul agar ke depan dapat dilakukan penguatan kolaborasi melalui perluasan implementasi Pesantren Ramah Anak dan Madrasah Ramah Anak, pengembangan keterampilan peserta didik madrasah yang responsif gender dan inklusif, dukungan terhadap implementasi Ekoteologi dalam aksi iklim dan pelindungan lingkungan, serta penjajakan pemanfaatan pembiayaan sosial syariah untuk mendukung kesejahteraan anak.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam pertemuan itu kembali memaparkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai fondasi transformasi pendidikan agama yang berorientasi pada pembentukan karakter, spiritualitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. "Jika kita ingin melakukan perubahan nyata dalam karakter anak bangsa, kita harus berani mengubah sistem pendidikannya," ujar Menag.
Menurut Menag, sikap peserta didik tidak akan berubah tanpa perubahan sistem pendidikan yang melandasinya. Karena itu, transformasi pendidikan bertumpu pada integrasi tiga dimensi utama, yakni Tauhid sebagai landasan spiritual, Logos sebagai kemampuan berpikir rasional, serta Ethics sebagai pedoman moral. Ketiga aspek tersebut kemudian diwujudkan dalam Ethos, yakni perilaku nyata yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.