Cegah Konflik Digital, Habib Aboe Dorong AIPA Bentuk Sistem Peringatan Dini
Ahmad zuhdi
Kamis, 23 Juli 2026 - 19:07 WIB
Cegah Konflik Digital, Habib Aboe Dorong AIPA Bentuk Sistem Peringatan Dini
Perkembangan perang siber hingga ancaman disinformasi berbasis Artificial Intelligence (AI) dinilai makin berpotensi memicu polarisasi sosial di Asia Tenggara. Menanggapi situasi ini, Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, mendorong ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) untuk merumuskan kerangka peringatan dini digital demi menjaga stabilitas kawasan.
Inisiatif tersebut disampaikan Habib Aboe saat menghadiri The 17th Meeting of the AIPA Caucus. Ia menilai, pendekatan penyelesaian sengketa tradisional yang ada saat ini perlu diperbarui agar adaptif terhadap perkembangan teknologi modern.
“Ancaman keamanan kawasan tidak lagi sebatas konflik militer atau sengketa wilayah, melainkan telah merambah ke kejahatan siber, ujaran kebencian, hingga manipulasi opini publik yang berisiko menyulut konflik lintas negara,” ungkap Habib Aboe dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/7/2026).Baca Juga:Resolusi PBB: 142 Negara Akui Palestina, 10 Negara Menolak Salah Satunya Nauru yang Akan Membuka Kedutaannya di Yerusalem
Sebagai solusi konkrit, ia mengusulkan pembentukan ASEAN Digital Early Warning and Peacekeeping Framework. Regulasi regional ini diharapkan mampu mendeteksi serta meredam potensi ancaman di ruang digital sebelum membesar menjadi krisis terbuka.
Lebih lanjut, Habib Aboe menekankan pentingnya diplomasi parlementer untuk menyelaraskan regulasi, memperkuat pertukaran informasi, dan membangun rasa saling percaya antarnegara anggota AIPA. Menurut dia, stabilitas dan perdamaian yang berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi serta kerja sama yang inklusif di tingkat regional.
Inisiatif tersebut disampaikan Habib Aboe saat menghadiri The 17th Meeting of the AIPA Caucus. Ia menilai, pendekatan penyelesaian sengketa tradisional yang ada saat ini perlu diperbarui agar adaptif terhadap perkembangan teknologi modern.
“Ancaman keamanan kawasan tidak lagi sebatas konflik militer atau sengketa wilayah, melainkan telah merambah ke kejahatan siber, ujaran kebencian, hingga manipulasi opini publik yang berisiko menyulut konflik lintas negara,” ungkap Habib Aboe dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/7/2026).Baca Juga:Resolusi PBB: 142 Negara Akui Palestina, 10 Negara Menolak Salah Satunya Nauru yang Akan Membuka Kedutaannya di Yerusalem
Sebagai solusi konkrit, ia mengusulkan pembentukan ASEAN Digital Early Warning and Peacekeeping Framework. Regulasi regional ini diharapkan mampu mendeteksi serta meredam potensi ancaman di ruang digital sebelum membesar menjadi krisis terbuka.
Lebih lanjut, Habib Aboe menekankan pentingnya diplomasi parlementer untuk menyelaraskan regulasi, memperkuat pertukaran informasi, dan membangun rasa saling percaya antarnegara anggota AIPA. Menurut dia, stabilitas dan perdamaian yang berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi serta kerja sama yang inklusif di tingkat regional.
(zhd)