home masjid

Tafsir Al-Baqarah Ayat 14: Sifat Bermuka Dua Kaum Munafik

Kamis, 06 Agustus 2026 - 06:06 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 14: Sifat Bermuka Dua Kaum Munafik
Ayat ke-14 dari Surat Al-Baqarah menguraikan secara mendalam salah satu karakter utama orang-orang munafik, yaitu sifat bermuka dua. Dalam ayat ini, Allah ﷻ memaparkan perbandingan kontras antara perilaku mereka di hadapan kaum mukminin dengan sikap mereka saat berada di belakang layar bersama para pemimpin kesesatan mereka.

وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ

"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (QS Al-Baqarah: 14).

Ketika orang-orang munafik bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka secara lisan menyatakan aamannaa atau kami telah beriman. Berdasarkan penafsiran Ibnu Katsir yang diringkas oleh Syaikh Hikmat bin Basyir bin Yasin, ungkapan ini disampaikan untuk menampakkan keimanan, janji, dan kecintaan palsu kepada kaum mukmin. Tujuan utama dari kepura-puraan ini adalah untuk melindungi diri mereka serta agar bisa ikut mengambil bagian dari kebaikan dan harta rampasan perang yang diperoleh oleh orang-orang mukmin.

Namun kondisi tersebut berubah total ketika mereka kembali kepada kelompoknya (wa idzaa khalaw ilaa syayaathiinihim). Kata khalau bermakna berpaling atau pergi berlalu. Penggunaan kata ini disambungkan dengan ilaa untuk menunjukkan fi'il yang mengandung dhamir dan fi'il yang tampak. Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa kata ilaa di sini bermakna ma'a (bersama), Ibnu Jarir at-Tabari menegaskan bahwa pendapat pertamalah yang lebih tepat. Sementara itu, As-Suddi meriwayatkan dari Abu Malik bahwa kata khalau berarti telah berlalu.

Mengenai frasa syayaathiinihim atau setan-setan mereka, para ulama tafsir memberikan rincian sosok yang dimaksud. Secara umum, istilah ini merujuk kepada para pemimpin, pembesar, dan pemuka mereka dalam kejahatan. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa setan-setan tersebut adalah orang-orang Yahudi yang memerintahkan kaum munafik untuk berdusta dan menentang risalah Rasulullah ﷺ. Mujahid berpendapat bahwa mereka adalah rekan-rekan sesama munafik dan musyrik. Qatadah, Abu Malik, Abu Al-'Aliyah, As-Suddi, serta Ar-Rabi' bin Anas juga sepakat bahwa makna setan di sini adalah para pemimpin kesyirikan dan kejahatan.

Baca Juga:Kajian Al-Baqarah Ayat 12: Ketika Perusak Merasa Melakukan Perbaikan
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya