Kemenag Beberkan 4 Tantangan Dakwah Kontemporer di Era Digital, AI Jadi Mitra Bukan Pengganti
Tim langit 7
Kamis, 06 Agustus 2026 - 16:17 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta; Dakwah masa kini tidak cukup hanya dengan ceramah. Dakwah kontemporer perlu dikemas secara lebih kreatif dan inovatif karena ada empat hal yang menjadi tantangan di era digital.
Empat tantangan ini dijelaskan Direktur Penerangan Agama Islam, Kementerian Agama, Muchlis M Hanafi saat menjadi narasumber pada MRO Development Programme, di Jakarta, Rabu (5/8/2026). Forum ini menghadirkan sejumlah ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia, antara lain Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Sayyed Aqil Husain al-Munawwar. Acara diikuti juga oleh delagasi asatidz dari Singapura.
Di hadapan peserta forum ilmiah, Muchlis menyampaikan kuliah bertajuk “Dakwah Kontemporer: Dari Ilmu Menuju Amal.” Ia menegaskan bahwa tantangan dakwah dewasa ini bukan lagi terletak pada keterbatasan akses terhadap ilmu, melainkan pada kemampuan mengubah ilmu menjadi amal dan menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan umat.
Menurutnya, Al-Qur’an secara konsisten menggandengkan iman dengan amal saleh, yang menunjukkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan atau bahan diskusi, tetapi harus bermuara pada perubahan perilaku dan terwujudnya kemaslahatan sosial.
Muchlis juga menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan dakwah tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya jamaah atau luasnya jangkauan ceramah, tetapi oleh dampak yang dihasilkan. “Dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu menghadirkan keluarga yang lebih harmonis, meningkatnya kepedulian sosial, tumbuhnya semangat beribadah, dan lahirnya perubahan positif di tengah masyarakat,” ujar dia dalam keterangannya, dikutip Kamis (6/8/2026).
Ia lalu mengidentifikasi empat tantangan utama dakwah kontemporer, yaitu: ledakan informasi dan disinformasi, krisis keteladanan, karakter generasi muda yang semakin kritis dan dialogis, serta kehidupan masyarakat multikultural. Dalam konteks tersebut, para asatizah dituntut tidak hanya menguasai teks-teks keagamaan, tetapi juga memahami konteks sosial, maqashid syariah, serta dinamika perubahan masyarakat agar dakwah tetap relevan. Muchlis juga mengapresiasi pengalaman para asatizah Singapura dalam mempraktikkan nilai-nilai wasathiyah di tengah masyarakat yang plural.
Menyinggung perkembangan kecerdasan artifisial (AI), Muchlis menilai teknologi tersebut akan menjadi instrumen penting dalam mendukung dakwah. AI dapat membantu menjawab pertanyaan, menerjemahkan, maupun menyusun materi ceramah, tetapi tidak akan mampu menggantikan hikmah, keteladanan, kasih sayang, keikhlasan, dan sentuhan kemanusiaan yang menjadi inti dakwah.
Empat tantangan ini dijelaskan Direktur Penerangan Agama Islam, Kementerian Agama, Muchlis M Hanafi saat menjadi narasumber pada MRO Development Programme, di Jakarta, Rabu (5/8/2026). Forum ini menghadirkan sejumlah ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia, antara lain Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Sayyed Aqil Husain al-Munawwar. Acara diikuti juga oleh delagasi asatidz dari Singapura.
Di hadapan peserta forum ilmiah, Muchlis menyampaikan kuliah bertajuk “Dakwah Kontemporer: Dari Ilmu Menuju Amal.” Ia menegaskan bahwa tantangan dakwah dewasa ini bukan lagi terletak pada keterbatasan akses terhadap ilmu, melainkan pada kemampuan mengubah ilmu menjadi amal dan menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan umat.
Menurutnya, Al-Qur’an secara konsisten menggandengkan iman dengan amal saleh, yang menunjukkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan atau bahan diskusi, tetapi harus bermuara pada perubahan perilaku dan terwujudnya kemaslahatan sosial.
Muchlis juga menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan dakwah tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya jamaah atau luasnya jangkauan ceramah, tetapi oleh dampak yang dihasilkan. “Dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu menghadirkan keluarga yang lebih harmonis, meningkatnya kepedulian sosial, tumbuhnya semangat beribadah, dan lahirnya perubahan positif di tengah masyarakat,” ujar dia dalam keterangannya, dikutip Kamis (6/8/2026).
Ia lalu mengidentifikasi empat tantangan utama dakwah kontemporer, yaitu: ledakan informasi dan disinformasi, krisis keteladanan, karakter generasi muda yang semakin kritis dan dialogis, serta kehidupan masyarakat multikultural. Dalam konteks tersebut, para asatizah dituntut tidak hanya menguasai teks-teks keagamaan, tetapi juga memahami konteks sosial, maqashid syariah, serta dinamika perubahan masyarakat agar dakwah tetap relevan. Muchlis juga mengapresiasi pengalaman para asatizah Singapura dalam mempraktikkan nilai-nilai wasathiyah di tengah masyarakat yang plural.
Menyinggung perkembangan kecerdasan artifisial (AI), Muchlis menilai teknologi tersebut akan menjadi instrumen penting dalam mendukung dakwah. AI dapat membantu menjawab pertanyaan, menerjemahkan, maupun menyusun materi ceramah, tetapi tidak akan mampu menggantikan hikmah, keteladanan, kasih sayang, keikhlasan, dan sentuhan kemanusiaan yang menjadi inti dakwah.