home masjid

Perniagaan Semu Kaum Munafik: Menukar Hidayah Demi Kesesatan

Sabtu, 08 Agustus 2026 - 06:03 WIB
Perniagaan Semu Kaum Munafik: Menukar Hidayah Demi Kesesatan
Al-Qur'an kerap menggunakan metafora ekonomi untuk menggambarkan keputusan jiwa manusia. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 16, Allah memberikan perumpamaan yang sangat tajam mengenai keputusan kaum munafik yang memilih bertransaksi dengan menukar hidayah demi kesesatan, yang pada akhirnya mengarahkan mereka pada kerugian mutlak.

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشْتَرَوُا۟ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمْ وَمَا كَانُوا۟ مُهْتَدِينَ

Artinya: "Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk."

Para mufasir sepakat bahwa frasa isytarawuḍ-ḍalālata bil-hudā mengisyaratkan sebuah tindakan penukaran iman secara fatal. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa perumpamaan ini amat mulia; Allah menjadikan petunjuk—puncak segala kebaikan—bagaikan nilai tukar atau modal, sedangkan kesesatan adalah barang yang dibeli. Kaum munafik dengan penuh kesadaran menyerahkan modal keimanan demi mendapatkan barang yang merusak tersebut.

Rincian latar belakang transaksi spiritual ini diterangkan oleh para ulama klasik. Ibnu Abbas menegaskan bahwa makna membeli kesesatan dengan petunjuk adalah menukar keimanan dengan kekafiran. Sementara itu, Mujahid berpendapat bahwa mereka sempat beriman sebelum akhirnya jatuh kembali dalam kekufuran. Di sisi lain, Qatadah menyoroti aspek psikologisnya, yaitu kecenderungan kaum munafik yang memang lebih menyukai kesesatan dibanding hidayah—sebagaimana kondisi kaum Tsamud yang lebih memilih kebutaan hati.

Baca Juga:Kajian Al-Baqarah Ayat 12: Ketika Perusak Merasa Melakukan Perbaikan

Secara kebahasaan, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar mengartikan aḍ-ḍalālah sebagai kebingungan, penyimpangan dari tujuan, serta sirnanya petunjuk. Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi menambahkan bahwa dalam at-tijārah (perdagangan), modal yang dipertaruhkan kaum munafik adalah keimanan. Mereka berharap memperoleh kemuliaan dan kekayaan duniawi melalui kemunafikan, namun transaksi tersebut terbukti gagal total.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya