Fadli Zon Dorong Kebudayaan Jadi Tujuan Pembangunan Global Pasca-2030
Tim langit 7
Ahad, 09 Agustus 2026 - 22:29 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Bhopal; Indonesia mendorong agar kebudayaan ditempatkan sebagai tujuan tersendiri dalam kerangka pembangunan global pasca-2030. Dorongan tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam XI BRICS Culture Ministers’ Meeting di Bhopal, Madhya Pradesh, India, Sabtu (8/8).
Pertemuan yang diselenggarakan di bawah keketuaan India tersebut mengangkat tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”. Forum ini menjadi momentum bagi negara-negara BRICS untuk memperkuat kerja sama kebudayaan sebagai bagian penting dalam menjawab berbagai tantangan global sekaligus mendorong pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.
Dalam intervensinya, Menbud Fadli menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah India atas kepemimpinannya dalam BRICS 2026 serta menegaskan dukungan Indonesia terhadap adopsi Declaration of the XI BRICS Culture Ministers’ Meeting. Menurutnya, kerja sama kebudayaan BRICS perlu berorientasi pada masyarakat, inklusif, serta berlandaskan kesetaraan kedaulatan, konsensus, dan saling menghormati.
“Indonesia menyambut baik Deklarasi XI BRICS Culture Ministers’ Meeting sebagai komitmen bersama untuk menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan strategis bagi ketangguhan, inovasi, keberlanjutan, dan penguatan kerja sama di antara negara-negara BRICS,” ungkap Menbud dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Menbud Fadli Zon menilai, berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi, tekanan perubahan iklim, hingga fragmentasi sosial, semakin menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sekadar pelengkap pembangunan. Kebudayaan, menurutnya, merupakan fondasi yang dapat memperkuat ketangguhan masyarakat, mendorong inovasi, memperkuat kohesi sosial, serta mendukung pembangunan berkelanjutan.
Atas dasar itu, Indonesia mendorong penguatan kerja sama BRICS melalui empat agenda utama. Pertama, memperkuat pelindungan warisan budaya sekaligus kerja sama pengembalian dan restitusi benda budaya. Kedua, memperkuat industri budaya dan kreatif dengan menempatkan seniman dan kreator sebagai pusat ekosistem, termasuk melalui pelindungan hak kekayaan intelektual dan remunerasi yang adil.
Ketiga, Indonesia mendorong pelindungan sistem pengetahuan tradisional dengan memastikan keterlibatan masyarakat dan para pemegang pengetahuan. Keempat, Indonesia mengusulkan agar kebudayaan ditempatkan sebagai tujuan tersendiri dalam kerangka pembangunan global pasca-2030, sehingga kontribusi kebudayaan terhadap pembangunan dapat diakui secara lebih jelas dan berkelanjutan.
Pertemuan yang diselenggarakan di bawah keketuaan India tersebut mengangkat tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”. Forum ini menjadi momentum bagi negara-negara BRICS untuk memperkuat kerja sama kebudayaan sebagai bagian penting dalam menjawab berbagai tantangan global sekaligus mendorong pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.
Dalam intervensinya, Menbud Fadli menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah India atas kepemimpinannya dalam BRICS 2026 serta menegaskan dukungan Indonesia terhadap adopsi Declaration of the XI BRICS Culture Ministers’ Meeting. Menurutnya, kerja sama kebudayaan BRICS perlu berorientasi pada masyarakat, inklusif, serta berlandaskan kesetaraan kedaulatan, konsensus, dan saling menghormati.
“Indonesia menyambut baik Deklarasi XI BRICS Culture Ministers’ Meeting sebagai komitmen bersama untuk menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan strategis bagi ketangguhan, inovasi, keberlanjutan, dan penguatan kerja sama di antara negara-negara BRICS,” ungkap Menbud dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Menbud Fadli Zon menilai, berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi, tekanan perubahan iklim, hingga fragmentasi sosial, semakin menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sekadar pelengkap pembangunan. Kebudayaan, menurutnya, merupakan fondasi yang dapat memperkuat ketangguhan masyarakat, mendorong inovasi, memperkuat kohesi sosial, serta mendukung pembangunan berkelanjutan.
Atas dasar itu, Indonesia mendorong penguatan kerja sama BRICS melalui empat agenda utama. Pertama, memperkuat pelindungan warisan budaya sekaligus kerja sama pengembalian dan restitusi benda budaya. Kedua, memperkuat industri budaya dan kreatif dengan menempatkan seniman dan kreator sebagai pusat ekosistem, termasuk melalui pelindungan hak kekayaan intelektual dan remunerasi yang adil.
Ketiga, Indonesia mendorong pelindungan sistem pengetahuan tradisional dengan memastikan keterlibatan masyarakat dan para pemegang pengetahuan. Keempat, Indonesia mengusulkan agar kebudayaan ditempatkan sebagai tujuan tersendiri dalam kerangka pembangunan global pasca-2030, sehingga kontribusi kebudayaan terhadap pembangunan dapat diakui secara lebih jelas dan berkelanjutan.