Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) memberikan pembekalan kepada calon mahasiswa Indonesia yang akan melanjutkan pendidikan ke Maroko. Kegiatan Pre-Departure Calon Mahasiswa Indonesia ke Maroko dilaksanakan selama tiga hari, Rabu–Jumat, 30 September–2 Oktober 2026, sebagai bagian dari upaya memastikan kesiapan mahasiswa sebelum menjalani studi di luar negeri.
Pembekalan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari Kementerian Agama, di antaranya Kasubdit Kelembagaan dan Kerja Sama Direktorat PTKI, Ahmad Mahfud Arsyad, Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Khoirul Huda Basyir serta Staf Khusus Menteri Farid F. Saenong.
Dalam pembekalan, para calon mahasiswa mendapatkan penguatan mengenai kesiapan akademik, kehidupan sosial dan budaya di negara tujuan, etika sebagai mahasiswa Indonesia di luar negeri, serta pentingnya menjaga nama baik pribadi, keluarga, lembaga pendidikan, dan bangsa Indonesia.
Ahmad Mahfud Arsyad menekankan bahwa keberangkatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri tidak semata-mata merupakan perjalanan akademik, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun kapasitas generasi muda Indonesia.
“Mahasiswa yang belajar di luar negeri membawa nama Indonesia. Karena itu, selain harus memiliki kemampuan akademik, mahasiswa juga perlu memiliki sikap disiplin, kemampuan beradaptasi, serta menjaga etika dan nama baik bangsa selama berada di negara tujuan,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman belajar di Maroko diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring akademik antara Indonesia dan Maroko. Para mahasiswa juga diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan mengembangkan kompetensi yang nantinya dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan Indonesia.
Baca Juga: DPR Minta Penguatan Tata Kelola MBG, Mulai Keamanan Pangan hingga Transparansi Anggaran
Lain itu, Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Khoirul Huda Basyir, memberikan penguatan mengenai pentingnya integritas dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di luar negeri.
Ia mengingatkan agar para mahasiswa senantiasa menjaga kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, baik di lingkungan kampus maupun di negara tujuan.
“Integritas menjadi modal penting bagi setiap mahasiswa. Prestasi akademik harus berjalan seiring dengan karakter, tanggung jawab, dan sikap yang baik. Di mana pun berada, mahasiswa Indonesia harus mampu menunjukkan nilai-nilai tersebut,” pesannya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Agama, Farid F. Saenong, memberikan perspektif mengenai posisi mahasiswa Indonesia di tengah lingkungan global. Menurutnya, studi di luar negeri merupakan kesempatan untuk memperluas cakrawala keilmuan sekaligus membangun kemampuan untuk berdialog dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya dan pemikiran yang beragam.
“Kalian berangkat untuk belajar, tetapi pada saat yang sama kalian juga membawa cerita tentang Indonesia. Tunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang terbuka, beragam, berilmu, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan," ujarnya.
Farid juga berpesan agar para mahasiswa tidak kehilangan akar keindonesiaannya ketika berinteraksi dengan lingkungan internasional. Ia berharap pengalaman belajar di Maroko dapat membentuk generasi muda yang mampu menjadi penghubung antara Indonesia dan dunia internasional. “Jadilah global tanpa kehilangan akar. Kuasai ilmu, bangun jejaring, terbuka terhadap berbagai perspektif, tetapi tetap memiliki karakter dan identitas sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” katanya.
Selain mendapatkan materi dari para narasumber, para calon mahasiswa juga memperoleh kesempatan untuk berdiskusi mengenai berbagai hal yang perlu dipersiapkan sebelum keberangkatan, termasuk kesiapan mental, administrasi perjalanan, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Rangkaian kegiatan Pre-Departure kemudian ditutup dengan pengantaran 48 calon mahasiswa menuju Bandara Internasional Jakarta pada Jumat, 2 Oktober 2026. Pengantaran tersebut menjadi momentum pelepasan sekaligus bentuk dukungan Kementerian Agama kepada para mahasiswa yang akan memulai perjalanan akademiknya di Maroko.
Keberangkatan para calon mahasiswa ini diharapkan menjadi awal dari perjalanan pendidikan yang dapat memperkaya pengalaman, wawasan, dan kompetensi mereka. Setelah menyelesaikan pendidikan, para mahasiswa diharapkan dapat kembali memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Islam dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Baca Juga: Mengenal Menlu Baru Arrmanatha Nasir dan Karier Diplomasinya yang Moncer
