Padamnya Cahaya Keimanan Semu dalam Perumpamaan Api di Al-Baqarah 17
Ahmad zuhdi
Senin, 10 Agustus 2026 - 06:09 WIB
Padamnya Cahaya Keimanan Semu dalam Perumpamaan Api di Al-Baqarah 17
Al-Qur'an kerap menyajikan perumpamaan yang sangat jelas dan mudah dibayangkan untuk membongkar kepalsuan sikap manusia. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 17, Allah memberikan gambaran nyata untuk memperlihatkan nasib orang-orang munafik, yaitu seperti seseorang yang berusaha menyalakan api di tengah malam yang gelap gulita.
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَآءَتْ مَا حَوْلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِى ظُلُمَٰتٍ لَّا يُبْصِرُونَ
Artinya: "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat."
Secara sejarah, ulama tafsir seperti Ibnu Abbas menceritakan bahwa ayat ini menggambarkan keadaan masyarakat di Madinah. Ketika Rasulullah SAW berhijrah, sebagian orang menyatakan diri masuk Islam, tetapi di dalam hati mereka sebenarnya menyimpan kemunafikan.
Kemampuan mereka membedakan mana yang halal dan haram serta rasa aman yang mereka nikmati bersama umat Islam diibaratkan seperti terang api yang menerangi sekelilingnya. Namun, keadaan itu tidak bertahan lama karena cahaya tersebut akhirnya padam total ketika kematian datang atau ketika sifat asli mereka terbongkar.
Baca Juga:Khutbah Jumat: Hakikat Perhiasan Dunia dan Batas Kesenangan Manusia
Gambaran api ini memperlihatkan dua sisi kehidupan yang dialami para pemilik iman palsu. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa orang munafik meminjam 'cahaya' dari orang-orang beriman hanya untuk menyelamatkan harta, jiwa, dan kedudukan mereka di dunia. Namun, karena iman itu tidak benar-benar meresap ke dalam hati, Allah mencabut cahaya yang berguna dan membiarkan sisi api yang membakar serta asap yang menyesakkan. Akibatnya, mereka kembali terlempar ke dalam berbagai bentuk kegelapan: kegelapan rasa ragu, kegelapan kemunafikan, kegelapan alam kubur, hingga kegelapan neraka.
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَآءَتْ مَا حَوْلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِى ظُلُمَٰتٍ لَّا يُبْصِرُونَ
Artinya: "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat."
Secara sejarah, ulama tafsir seperti Ibnu Abbas menceritakan bahwa ayat ini menggambarkan keadaan masyarakat di Madinah. Ketika Rasulullah SAW berhijrah, sebagian orang menyatakan diri masuk Islam, tetapi di dalam hati mereka sebenarnya menyimpan kemunafikan.
Kemampuan mereka membedakan mana yang halal dan haram serta rasa aman yang mereka nikmati bersama umat Islam diibaratkan seperti terang api yang menerangi sekelilingnya. Namun, keadaan itu tidak bertahan lama karena cahaya tersebut akhirnya padam total ketika kematian datang atau ketika sifat asli mereka terbongkar.
Baca Juga:Khutbah Jumat: Hakikat Perhiasan Dunia dan Batas Kesenangan Manusia
Gambaran api ini memperlihatkan dua sisi kehidupan yang dialami para pemilik iman palsu. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa orang munafik meminjam 'cahaya' dari orang-orang beriman hanya untuk menyelamatkan harta, jiwa, dan kedudukan mereka di dunia. Namun, karena iman itu tidak benar-benar meresap ke dalam hati, Allah mencabut cahaya yang berguna dan membiarkan sisi api yang membakar serta asap yang menyesakkan. Akibatnya, mereka kembali terlempar ke dalam berbagai bentuk kegelapan: kegelapan rasa ragu, kegelapan kemunafikan, kegelapan alam kubur, hingga kegelapan neraka.