Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 07 Agustus 2026
home masjid detail berita

Khutbah Jumat: Hakikat Perhiasan Dunia dan Batas Kesenangan Manusia

ahmad zuhdi Jum'at, 07 Agustus 2026 - 15:49 WIB
Khutbah Jumat: Hakikat Perhiasan Dunia dan Batas Kesenangan Manusia
LANGIT7.ID, Jakarta; - Oleh: Ustaz Hasan Muttaqin


‎‎الحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الدُّنْيَا دَارَ ابْتِلَاءٍ وَامْتِحَانٍ، وَجَعَلَ الآخِرَةَ دَارَ جَزَاءٍ وَقَرَارٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُمَّتَقُوْنَ.‎‎

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,‎Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar takwa. Jalankan perintah-Nya dan jauhi segala larangan-Nya.‎‎

Di dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan duniawi yang kerap menipu penglihatan manusia. Allah menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi ini sengaja dijadikan sebagai perhiasan untuk menguji siapakah di antara hamba-Nya yang terbaik amalnya. Namun, banyak di antara manusia yang justru terjebak dan kehilangan motivasi hakiki akibat terpikat oleh kebiasaan serta kenikmatan duniawi yang semu.‎‎

Manusia sering kali merasa puas hanya dengan perhiasan dunia. Batu-batu yang tadinya dianggap tidak berharga, begitu dipoles dan dihiasi, menjadi sesuatu yang dikejar-kejar. Harta, pangkat, serta jabatan membuat sebagian orang merasa aman, hingga lupa membangun hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta. Padahal, sebanyak apa pun simpanan kekayaan yang kita tumpuk di atas bumi, semuanya akan ditinggalkan dan tetap tersimpan di dalam bumi ketika kematian menjemput.‎‎

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,‎Penting bagi kita untuk memahami awal sejarah keberadaan manusia di bumi. Ketika Nabi Adam 'Alaihis Salam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi bersama iblis akibat berbuat maksiat, Allah menetapkan suatu sunnatullah:

‎‎وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ‎‎

"Dan bagi kamu ada tempat tinggal di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (QS Al-Baqarah: 36 / Al-A'raf: 24).‎‎

Ayat kauniyah ini membuktikan bahwa kehidupan manusia di bumi memiliki batas (ilā ḥīn). Setinggi apa pun jabatan seseorang, sebanyak apa pun deretan mobil mewah yang dikoleksinya, serta seindah apa pun tempat tinggal yang dimilikinya—bahkan jika manusia berusaha mencari tempat hidup di luar bumi—semuanya memiliki titik akhir. ‎‎

Tidak ada makhluk yang dapat melampaui batas ketetapan Allah tersebut. Kesenangan duniawi, baik berupa pasangan, harta, maupun tahta, sifatnya sementara dan lahiriah semata.‎Untuk memahami betapa kecilnya nilai dunia dibanding akhirat, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan perumpamaan yang sangat gambaratif. ‎

‎Beliau menggambarkan dunia ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan samudra yang luas. Air yang menempel di ujung jari saat diangkat—itulah perumpamaan nilai dunia, sedangkan lautan yang membentang tak bertepi itulah gambaran kehidupan akhirat. Betapa tidak rasionalnya jika manusia mengorbankan lautan samudra akhirat hanya demi mengejar seetes air duniawi di ujung jari.‎‎

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,‎Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menegaskan potensi fitnah dan syahwat yang telah ditanamkan pada diri manusia secara naluriah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali 'Imran ayat 14:

‎‎زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ‎‎

Kecintaan tersebut diawali dari kecintaan terhadap lawan jenis (istri atau pasangan), kemudian berkembang ingin memiliki anak keturunan (al-banīn). Setelah berkeluarga, muncul dorongan alami untuk menumpuk harta benda (al-qanāṭīr al-muqanṭarah) berupa emas, perak, kendaraan mewah (al-khail al-musawwamah), hingga hewan ternak dan sawah ladang (al-ḥarth).‎‎

Secara fitrah, dorongan ini alami. Yang menjadi masalah dan merusak adalah ketika manusia tidak lagi membatasi syahwatnya sesuai aturan Allah. Binatang, jika diberi makanan secukupnya, mereka akan berhenti ketika kenyang. Namun manusia yang telah dikuasai kerakusan dunia, jangankan mengambil haknya sendiri, harta bernilai jutaan rupiah milik orang lain pun akan disikat dan dirampas tanpa rasa takut. Mereka rela mengejar pemandangan indah, sawah, dan gunung, mengumpulkan harta tanpa henti, padahal di rumahnya segala kebutuhan telah mencukupi.

‎‎Semakin tinggi manusia mengejar dunia tanpa dilandasi rasa takut kepada Allah, semakin besar peluang terjadinya kerusakan (fasād). Jika dorongan menumpuk harta ini tidak dibendung, manusia akan jatuh pada sifat yang disindir keras oleh Allah dalam Surah At-Takatsur: Al-hākumut-takātsur, ḥattā zurtumul-maqābir—bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Menumpuk harta untuk diri sendiri, anak, hingga keturunan tanpa memedulikan halal-haram hanya akan menjadi umpan azab jika tidak diimbangi dengan kesadaran bahwa tempat kembali terbaik (ḥusnul ma'āb) hanyalah di sisi Allah SWT.

‎‎بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.‎‎

Khutbah Kedua: Membangun Sikap Qana'ah dan Kesadaran Akhirat


‎‎الحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ البَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.‎

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,‎Di akhir khutbah ini, marilah kita menyadari kembali posisi diri kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jangan sampai perhiasan dunia yang sifatnya sementara ini memalingkan kita dari tujuan utama diciptakannya manusia, yaitu beribadah dan mengumpulkan bekal menuju akhirat.‎‎

Dunia ini hanyalah tempat persinggahan dan ujian. Sehebat apa pun rumah yang kita bangun di dunia, pada akhirnya kita akan pulang ke rumah masa depan kita, yaitu liang kubur, sebelum nantinya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita tata kembali prioritas cinta di dalam hati kita. Jadikan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas kecintaan kepada anak, istri, harta benda, dan jabatan.‎‎

Gunakanlah harta dan kenikmatan dunia yang Allah amanahkan sebagai sarana untuk memperbanyak amal saleh, membantu sesama, dan menunjang dakwah Islam. Jangan biarkan harta benda justru menjadi pemutus silaturahmi, pemicu permusuhan, atau pendorong untuk berbuat curang dan zalim.

‎‎اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.‎

‎رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.‎

‎Mubaligh Persatuan Islam - Persis Jakarta


(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 07 Agustus 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:58
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan