home edukasi & pesantren

Wamen Stella Ajak Maba ITS Berpikir Kritis di Era Serba AI

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:51 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof Stella Christie PhD hadir sebagai pemateri dalam rangkaian PKKMB hari ke-3 ITS. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof Stella Christie PhD ajak para mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk berpikir kritis di tengah euforia teknologi akal imitasi (AI) era ini. Pemaparan tersebut disampaikannya di hadapan ribuan peserta Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS 2026 di GOR Pertamina ITS, Rabu (5/8).

Stella mengajak mahasiswa untuk bisa menelaah fenomena AI melalui sudut pandang keberlanjutan. Ia mengibaratkan perkembangan AI dengan fenomena economic bubble yang pernah terjadi pada perdagangan tulip di Belanda dan gelembung dot-com (dot-com bubble) pada akhir abad ke-19.

Menurutnya, euforia terhadap satu teknologi perlu disikapi secara kritis agar masyarakat tidak terjebak pada optimisme berlebihan. “Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu,” terang perempuan berkacamata ini, Selasa (11/8/2026).

Profesor dari Tsinghua University, China tersebut menegaskan bahwa analisis tersebut bukan untuk meremehkan AI, melainkan mengajak mahasiswa berpikir lebih mendalam mengenai dampaknya. Terlebih, ia menyoroti besarnya sumber daya yang dibutuhkan AI, namun tidak diketahui oleh banyak orang. “Pusat data AI memerlukan listrik dan air dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan proses komputasi yang juga diperkirakan terus meningkat,” papar Stella.

Lebih lanjut, Stella memaparkan fakta bahwa kebutuhan energi dan air untuk menopang pusat data AI itu setara dengan penggunaan di negara-negara besar. Kondisi tersebut dinilainya harus menjadi pertimbangan sebelum masyarakat memanfaatkan AI secara masif. “Untuk itu, saya mengingatkan bahwa kita harus mempertimbangkan apakah manfaat AI sepadan dengan sumber daya yang dikorbankan,” tutur Stella mengingatkan.

Peningkatan kapasitas AI yang sangat rakus tersebut memicu dilema global mengenai keberlanjutan energi. Ia mempertanyakan apakah dunia sanggup untuk terus menopang operasional AI yang masif tanpa mengorbankan kebutuhan vital manusia. Fenomena ini menuntut mahasiswa dan dunia akademik untuk bersikap kritis, bukan sekedar jubir teknologi, melainkan memahami batasan serta dampak nyata dari adopsi AI secara masif.

Sementara itu, ancaman penggantian peran manusia oleh AI nyata terjadi di berbagai aspek kehidupan. Ancaman AI bahkan melanda lulusan bidang ilmu komputer yang sebelumnya dianggap paling aman karena kemampuan koding AI yang dinilai jauh lebih efisien dan murah oleh perusahaan. “Maka, keberhasilan dan nilai dari berkuliah tidak lagi diukur dari ijazah, namun kemampuan nyata individu agar tidak tergantikan oleh AI,” terang Guru Besar bidang Kecerdasan Kognitif tersebut.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya