home edukasi & pesantren

Perkuat NKRI, Profesor ITS Gagas Sistem Otonom Maritim dan Udara

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:14 WIB
Prof Dr Ir Ari Santoso DEA saat menyampaikan orasi ilmiahnya sebagai Guru Besar ke-256 ITS. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beribu-ribu pulau yang membentang luas. Untuk mendukung konektivitas laut maupun udara, dibutuhkan teknologi otonom yang mampu bekerja secara terintegrasi. Sebagai solusi, Guru Besar ke-256 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Ir Ari Santoso DEA menggagas sistem kendaraan otonom maritim dan udara.

Dosen Departemen Teknik Elektro ITS tersebut menyampaikan bahwa kondisi geografis Indonesia kerap memicu tantangan dalam berbagai aspek. Permasalahan ini mencakup konektivitas, keselamatan, komunikasi, dan distribusi antarpulau. Hal ini meliputi keselamatan pelayaran, inspeksi kabel bawah laut, pemantauan sumber daya kelautan, hingga mitigasi bencana.

Sebagai langkah solutif, profesor asal Surabaya ini merancang tiga pilar kendaraan otonom untuk wilayah permukaan laut, bawah laut, serta udara. Teknologi tersebut diwujudkan dalam bentuk autonomous underwater vehicle (AUV), unmanned surface vehicle (USV), dan unmanned aerial vehicle (UAV). “Ketiganya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, antara lain mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, sensor, dan kecerdasan buatan,” urai dia dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).

Secara konsep, Ari mengungkapkan bahwa sistem kendaraan otonom yang dikembangkan ini bekerja dalam siklus tertutup atau closed-loop system. Pola tersebut terdiri dari enam komponen utama, yakni measurement, perception, guidance, control, actuator, dan environment. “Keenamnya saling terhubung dalam aliran informasi dan aksi yang berulang untuk menghasilkan keputusan serta gerakan yang adaptif, aman, dan optimal,” tuturnya.

Mengulik lebih jauh, setiap komponen memiliki fungsi dan peran yang spesifik. Measurement bertugas membaca data sensor, perception memahami lingkungan, sedangkan guidance menentukan arah dan lintasan. Sementara itu, control berperan menjaga kestabilan dan akurasi, actuator menjalankan perintah fisik, serta environment bertindak sebagai sumber gangguan yang harus diantisipasi oleh sistem.



Sistem kendaraan otonom unmanned aerial vehicle (UAV) berjenis hexacopter karya Guru Besar ke-156 ITS Prof Dr Ir Ari Santoso DEA. (Dok: Humas ITS)
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya