home lifestyle muslim

PDPI: 70-80 Persen Kanker Paru di Indonesia Terdeteksi Saat Stadium Lanjut, Skrining LDCT Terkendala Biaya

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:16 WIB
Wakil Ketua PDPI Dokter Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR. (Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta;Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkap kanker paru masih menjadi salah satu tantangan kesehatan serius di Indonesia. Persoalannya bukan hanya tingginya angka kematian, tetapi juga banyaknya pasien yang baru mengetahui penyakitnya ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut.

Wakil Ketua PDPI Dokter Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR, mengungkap sekitar 70-80 persen pasien kanker paru di Indonesia didiagnosis pada stadium lanjut, yakni stadium tiga dan empat. Kondisi ini membuat peluang mendapatkan terapi dengan tujuan kuratif semakin kecil.

“Rokok dan deteksi yang terlambat adalah dua tantangan terbesar kanker paru Indonesia,” ujar Erlang dalamKonferensi Pers Zoom Hari Kanker Paru Sedunia, Selasa (18/8/2026).

Menurut Erlang, keterlambatan diagnosis salah satunya terjadi karena gejala awal kanker paru tidak khas. Batuk lama, sesak, dan nyeri dada dapat menyerupai penyakit paru lainnya, termasuk tuberkulosis (TBC) dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Pasien juga dapat mengalami batuk darah, penurunan berat badan, lemas, hingga penurunan nafsu makan. Ketika kanker sudah berkembang, penyakit dapat menyebabkan penumpukan cairan di pleura, penyumbatan jalan napas, hingga metastasis ke organ lain.

“Kanker paru tidak hanya tentang tumor, tapi tentang napas, keluarga, dan kelangsungan hidup pasien,” kata Erlang.

Berita Lainnya