home global news

Bukan Sekadar Populer, Ma'ruf Amin Tekankan Ketum PBNU Harus Jago "Ngurus" dan "Ngatur"

Selasa, 25 Agustus 2026 - 11:35 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jombang; Menjelang Muktamar ke-35 NU, santer terdengar nama-nama bermunculan sebagai calon ketua umum. Namun di tengah hiruk-pikuk bursa kandidat, KH Ma'ruf Amin justru mengingatkan satu hal penting: urusan memimpin NU bukanlah soal popularitas semata, melainkan soal kapasitas teknis dan manajerial yang mumpuni.

Mustasyar PBNU itu menegaskan, posisi Ketua Umum PBNU kelak bukan sekadar figur seremonial. Ia adalah eksekutor lapangan yang menerjemahkan berbagai arahan Rais Aam ke dalam gerakan nyata. Karena itu, menurut Kiai Ma'ruf, yang terpilih nanti harus benar-benar yang terbaik—bukan sekadar yang paling dikenal.

"Ketua Umum itu harus punya manajerial, skala kemampuan mengelola, kemudian juga secara teknik mampu menggerakkan organisasi. Harus dipilih yang terbaik," ujarnya dalam tayangan Menjadi Indonesia ke-48 yang tayang Ahad (23/8/2026).

Dua Misi Islah: Satukan Dulu, Baru Bergerak

Lebih jauh, Kiai Ma'ruf mengingatkan bahwa kepemimpinan NU ke depan harus mengemban dua fungsi islah sekaligus. Pertama, al-ishlah dalam arti mendamaikan dan mempersatukan. Menurutnya, NU punya beban organisasi yang sangat berat—tidak mungkin dijalani jika内部 masih terpecah-belah. Seluruh potensi, dari berbagai latar belakang, harus dilebur menjadi satu kekuatan utuh.

"Tugas NU itu berat. Tidak mungkin kemudian dia terpecah-pecah. Dia harus menyatu," tegasnya.

Fungsi islah kedua adalah perbaikan gerakan. Artinya, seluruh aktivitas organisasi harus tetap berpijak pada fikrah dan manhaj NU, bukan pada pemikiran atau aliran di luar jalur nahdliyah. Gerakan yang dijalankan harus murni harakah nahdliyah, bukan gerakan atas nama pribadi atau golongan tertentu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya