Tafsir Al-Hijr 88: Tak Perlu Silau Nikmat dan Prestasi Orang Lain
Ahmad zuhdi
Jum'at, 28 Agustus 2026 - 18:22 WIB
Tafsir Al-Hijr 88: Tak Perlu Silau Nikmat dan Prestasi Orang Lain
Surat Al-Hijr ayat 88 hadir sebagai petunjuk pendidikan jiwa (tarbiyatun-nufs) bagi setiap Muslim. Ayat ini secara langsung melanjutkan pembahasan ayat sebelumnya yang menguraikan karunia agung berupa al-sabʿ al-mathānī (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Al-Qur'an al-ʿAẓīm.
Melalui ayat 88, Allah ﷻ memberikan garis panduan tegas yang mencakup larangan memandang silau kenikmatan dunia, larangan larut dalam kesedihan, serta perintah untuk bersikap rendah hati kepada sesama mukmin. Al-Biqāʿī menegaskan bahwa pesan ayat ini sejalan dengan Surat Taha ayat 131, yang mana seluruh kenikmatan materi yang melebihi kebutuhan pokok sejatinya berpotensi menjadi fitnah atau ujian hidup.
Penggalan Lā tamuddanna ʿainaika ilā mā mattaʿnā bihī azwājam minhum mengandung larangan keras bagi umat beriman agar tidak melemparkan pandangan yang diiringi rasa iri, angan-angan, maupun kekaguman terhadap kemewahan yang diberikan kepada kelompok-kelompok tertentu. Imam At-Tabari dan Al-Baghawī menjelaskan bahwa ungkapan lā tamuddanna melarang seseorang untuk memendam keinginan bersaing dalam meraih gemerlap duniawi yang sifatnya fana.
Ibnu Katsir menafsirkan bahwa manusia hendaknya mencukupkan diri dengan Al-Qur'an sebagai karunia tertinggi. Sementara itu, Al-Saʿdī dan Al-Shanqīṭī menegaskan bahwa orang yang telah dilimpahi karunia iman dan Al-Qur'an sangat tidak pantas memandang iri pada bagian duniawi yang jauh lebih rendah dan tidak abadi.
Melalui penggalan wa lā taḥzan ʿalaihim, Allah ﷻ melarang hamba-Nya untuk bersedih atas kenikmatan duniawi yang tampak disegerakan bagi orang lain. At-Tabari dan Al-Baghawī menguraikan bahwa rasa duka karena tidak ikut menikmati kemewahan materi tersebut merupakan hal yang tidak perlu terjadi.
Syekh As-Sa'dī menambahkan penjelasannya bahwa persaudaraan serta keberadaan sesama mukmin telah menyediakan pengganti yang jauh lebih bernilai dan membawa ketenangan hakiki dibanding perhiasan dunia yang fana.
Sebagai penyeimbang dari dua larangan sebelumnya, Allah ﷻ menutup ayat ini dengan perintah wakhfiḍ janāḥaka lil-mu’minīn. At-Tabari, Al-Baghawī, dan Al-Saʿdī sepakat menafsirkan penggalan ini sebagai perintah untuk merendahkan hati (tawāḍuʿ), melunakkan tutur kata, serta memperluas rasa kasih sayang kepada sesama orang beriman. Ibnu Katsir mengaitkan arahan ini dengan Surah Ash-Shu'ara ayat 215, yang menegaskan pentingnya kelembutan dan pengayoman dalam interaksi sosial kaum mukminin.
Melalui ayat 88, Allah ﷻ memberikan garis panduan tegas yang mencakup larangan memandang silau kenikmatan dunia, larangan larut dalam kesedihan, serta perintah untuk bersikap rendah hati kepada sesama mukmin. Al-Biqāʿī menegaskan bahwa pesan ayat ini sejalan dengan Surat Taha ayat 131, yang mana seluruh kenikmatan materi yang melebihi kebutuhan pokok sejatinya berpotensi menjadi fitnah atau ujian hidup.
Penggalan Lā tamuddanna ʿainaika ilā mā mattaʿnā bihī azwājam minhum mengandung larangan keras bagi umat beriman agar tidak melemparkan pandangan yang diiringi rasa iri, angan-angan, maupun kekaguman terhadap kemewahan yang diberikan kepada kelompok-kelompok tertentu. Imam At-Tabari dan Al-Baghawī menjelaskan bahwa ungkapan lā tamuddanna melarang seseorang untuk memendam keinginan bersaing dalam meraih gemerlap duniawi yang sifatnya fana.
Ibnu Katsir menafsirkan bahwa manusia hendaknya mencukupkan diri dengan Al-Qur'an sebagai karunia tertinggi. Sementara itu, Al-Saʿdī dan Al-Shanqīṭī menegaskan bahwa orang yang telah dilimpahi karunia iman dan Al-Qur'an sangat tidak pantas memandang iri pada bagian duniawi yang jauh lebih rendah dan tidak abadi.
Melalui penggalan wa lā taḥzan ʿalaihim, Allah ﷻ melarang hamba-Nya untuk bersedih atas kenikmatan duniawi yang tampak disegerakan bagi orang lain. At-Tabari dan Al-Baghawī menguraikan bahwa rasa duka karena tidak ikut menikmati kemewahan materi tersebut merupakan hal yang tidak perlu terjadi.
Syekh As-Sa'dī menambahkan penjelasannya bahwa persaudaraan serta keberadaan sesama mukmin telah menyediakan pengganti yang jauh lebih bernilai dan membawa ketenangan hakiki dibanding perhiasan dunia yang fana.
Sebagai penyeimbang dari dua larangan sebelumnya, Allah ﷻ menutup ayat ini dengan perintah wakhfiḍ janāḥaka lil-mu’minīn. At-Tabari, Al-Baghawī, dan Al-Saʿdī sepakat menafsirkan penggalan ini sebagai perintah untuk merendahkan hati (tawāḍuʿ), melunakkan tutur kata, serta memperluas rasa kasih sayang kepada sesama orang beriman. Ibnu Katsir mengaitkan arahan ini dengan Surah Ash-Shu'ara ayat 215, yang menegaskan pentingnya kelembutan dan pengayoman dalam interaksi sosial kaum mukminin.