Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 28 Agustus 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Hijr 88: Tak Perlu Silau Nikmat dan Prestasi Orang Lain

ahmad zuhdi Jum'at, 28 Agustus 2026 - 18:22 WIB
Tafsir Al-Hijr 88: Tak Perlu Silau Nikmat dan Prestasi Orang Lain
LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat Al-Hijr ayat 88 hadir sebagai petunjuk pendidikan jiwa (tarbiyatun-nufs) bagi setiap Muslim. Ayat ini secara langsung melanjutkan pembahasan ayat sebelumnya yang menguraikan karunia agung berupa al-sabʿ al-mathānī (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Al-Qur'an al-ʿAẓīm.

Melalui ayat 88, Allah ﷻ memberikan garis panduan tegas yang mencakup larangan memandang silau kenikmatan dunia, larangan larut dalam kesedihan, serta perintah untuk bersikap rendah hati kepada sesama mukmin. Al-Biqāʿī menegaskan bahwa pesan ayat ini sejalan dengan Surat Taha ayat 131, yang mana seluruh kenikmatan materi yang melebihi kebutuhan pokok sejatinya berpotensi menjadi fitnah atau ujian hidup.

Penggalan Lā tamuddanna ʿainaika ilā mā mattaʿnā bihī azwājam minhum mengandung larangan keras bagi umat beriman agar tidak melemparkan pandangan yang diiringi rasa iri, angan-angan, maupun kekaguman terhadap kemewahan yang diberikan kepada kelompok-kelompok tertentu. Imam At-Tabari dan Al-Baghawī menjelaskan bahwa ungkapan lā tamuddanna melarang seseorang untuk memendam keinginan bersaing dalam meraih gemerlap duniawi yang sifatnya fana.

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa manusia hendaknya mencukupkan diri dengan Al-Qur'an sebagai karunia tertinggi. Sementara itu, Al-Saʿdī dan Al-Shanqīṭī menegaskan bahwa orang yang telah dilimpahi karunia iman dan Al-Qur'an sangat tidak pantas memandang iri pada bagian duniawi yang jauh lebih rendah dan tidak abadi.

Melalui penggalan wa lā taḥzan ʿalaihim, Allah ﷻ melarang hamba-Nya untuk bersedih atas kenikmatan duniawi yang tampak disegerakan bagi orang lain. At-Tabari dan Al-Baghawī menguraikan bahwa rasa duka karena tidak ikut menikmati kemewahan materi tersebut merupakan hal yang tidak perlu terjadi.

Syekh As-Sa'dī menambahkan penjelasannya bahwa persaudaraan serta keberadaan sesama mukmin telah menyediakan pengganti yang jauh lebih bernilai dan membawa ketenangan hakiki dibanding perhiasan dunia yang fana.

Sebagai penyeimbang dari dua larangan sebelumnya, Allah ﷻ menutup ayat ini dengan perintah wakhfiḍ janāḥaka lil-mu’minīn. At-Tabari, Al-Baghawī, dan Al-Saʿdī sepakat menafsirkan penggalan ini sebagai perintah untuk merendahkan hati (tawāḍuʿ), melunakkan tutur kata, serta memperluas rasa kasih sayang kepada sesama orang beriman. Ibnu Katsir mengaitkan arahan ini dengan Surah Ash-Shu'ara ayat 215, yang menegaskan pentingnya kelembutan dan pengayoman dalam interaksi sosial kaum mukminin.

Latar belakang peringatan dalam ayat 88 ini tidak terlepas dari penegasan nikmat al-sabʿ al-mathānī pada ayat 87. Dalam kajian tafsir, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai makna istilah tersebut. Pendapat pertama—sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ali bin Abi Thalib dan Abū al-ʿĀliyah—menjelaskan bahwa al-sabʿ al-mathānī adalah Surah Al-Fatihah yang diulang-ulang dalam setiap shalat.

Pendapat kedua, yang dituturkan oleh Ibnu Abbas dan Sa'id bin Jubair, merujuk pada tujuh surah panjang (al-sabʿ al-ṭiwāl). Imam Al-Ālūsī menguatkan bahwa pandangan yang paling shahih mengarah pada Surah Al-Fatihah, di mana pemahaman akan keagungan Al-Fatihah sudah lebih dari cukup untuk membuat hati seorang hamba merasa kaya dan tidak perlu iri pada pencapaian orang lain.

Pengkajian Surah Al-Hijr ayat 88 menyampaikan pelbagai ikhtibar bernilai tinggi. Pertama, merasa cukup (qanāʿah) atas karunia Al-Qur'an dan keimanan merupakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit hati dari rasa iri dengki. Kedua, kemewahan serta prestasi materi orang lain pada hakikatnya adalah ujian hidup, sehingga tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk merasa berkecil hati.

Ketiga, kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari pencapaian harta, melainkan dari keteguhan iman dan tingkat kerendahan hatinya terhadap sesama.

Sebagai kesimpulan, ayat ini merumuskan ajaran spiritual yang sangat seimbang: hendaknya manusia tidak silau menatap ke atas demi mengejar materi, tidak larut bersedih atas hal-hal duniawi yang luput, serta senantiasa menundukkan pandangan dengan kelembutan dan rasa kasih sayang kepada sesama mukmin. Ketenangan hati yang sejati akan terwujud tatkala fokus hidup dialihkan dari mengejar kemewahan fana menuju penghayatan karunia Al-Qur'an.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 28 Agustus 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:58
Ashar
15:16
Maghrib
17:56
Isya
19:06
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan