Dari Sampo sampai Kopi, Siklus Refill Layanan Isi Ulang Kebutuhan Rumah Tangga
Muhammad rifai akif
Selasa, 26 Oktober 2021 - 11:17 WIB
Perusahaan rintisan Siklus Refill bertujuan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik di Indonesia. Foto : @siklusrefill/Instagram
Hasil Riset Grup Penelitian Jambeck menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan setelah China. Jelas, capaian ini bukanlah hal yang membanggakan, mengingat sampah plastik masih menjadi permasalahan di dunia.
Data tersebut diperkuat dengan studi baru dari University of Victoria yang menyebutkan sampah plastik telah membunuh 1 juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, kura-kura laut dan ikan dalam jumlah besar, setiap tahunnya.
Selain berdampak pada pencemaran air, sampah plastik terbukti mengancam siklus hidup hewan dan alam juga berakibat buruk pada kesehatan manusia. Salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan diet penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Menjawab permasalahan tersebut, perusahaan rintisan Siklus Refill membuka ritel tanpa menggunakan kemasan plastik. Produk yang ditawarkan pun lekat dengan keseharian seperti minyak goreng, sabun mandi, shampoo, sabun cuci piring, deterjen, pewangi pakaian hingga pengharum setrika.
Memulai aktivitasnya sejak April 2020, seorang warga Jerman, Jane von Rabenou mendirikan Siklus Refill ini. Tujuannya adalah untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekaligus memenuhi kebutuhan harian masyarakat dengan harga lebih terjangkau, terutama bagi masyarakat berpenghasilan terbatas.
Menurut Public Relation Siklus Refill Brenda Cynthia, bisnis ini berangkat dari keprihatinan akan penggunaan sampah plastik yang kian bertambah. Terutama di masyakarat kelas bawah yang lebih sering membeli produk dengan jenis sachet.
"Jenis sachet itu terkesan murah, padahal tidak ekonomis, karena sebetulnya isinya lebih sedikit, tapi menyumbang sampah plastik yang besar." jelas Brenda.
Data tersebut diperkuat dengan studi baru dari University of Victoria yang menyebutkan sampah plastik telah membunuh 1 juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, kura-kura laut dan ikan dalam jumlah besar, setiap tahunnya.
Selain berdampak pada pencemaran air, sampah plastik terbukti mengancam siklus hidup hewan dan alam juga berakibat buruk pada kesehatan manusia. Salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan diet penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Menjawab permasalahan tersebut, perusahaan rintisan Siklus Refill membuka ritel tanpa menggunakan kemasan plastik. Produk yang ditawarkan pun lekat dengan keseharian seperti minyak goreng, sabun mandi, shampoo, sabun cuci piring, deterjen, pewangi pakaian hingga pengharum setrika.
Memulai aktivitasnya sejak April 2020, seorang warga Jerman, Jane von Rabenou mendirikan Siklus Refill ini. Tujuannya adalah untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekaligus memenuhi kebutuhan harian masyarakat dengan harga lebih terjangkau, terutama bagi masyarakat berpenghasilan terbatas.
Menurut Public Relation Siklus Refill Brenda Cynthia, bisnis ini berangkat dari keprihatinan akan penggunaan sampah plastik yang kian bertambah. Terutama di masyakarat kelas bawah yang lebih sering membeli produk dengan jenis sachet.
"Jenis sachet itu terkesan murah, padahal tidak ekonomis, karena sebetulnya isinya lebih sedikit, tapi menyumbang sampah plastik yang besar." jelas Brenda.