home masjid

Pesan Al-Baqarah Ayat 40: Mengingat Nikmat dan Menepati Janji

Kamis, 10 September 2026 - 06:04 WIB
Pesan Al-Baqarah Ayat 40: Mengingat Nikmat dan Menepati Janji
Ayat ke-40 Surat Al-Baqarah menjadi titik balik penting dalam alur pembahasan Al-Qur'an, yaitu peralihan dari kisah penciptaan manusia secara umum melalui Nabi Adam menuju pencerahan khusus bagi Bani Israil. Allah ﷻ mengawali khitab-Nya kepada kelompok ini melalui perintah untuk selalu mengingat limpahan nikmat-Nya serta menunaikan janji yang telah diikat.

Menurut penjelasan al-Tabari, panggilan ini memegang peranan vital karena merupakan fondasi argumen keagamaan terhadap tokoh-tokoh dan pendeta Yahudi yang bermukim di sekitar Madinah saat Rasulullah ﷺ berhijrah (al-Tabari, Jāmiʿ al-Bayān. Pemanggilan menggunakan nisbah kepada Nabi Yaʿqūb—yang bergelar Isrāʾīl—berfungsi ganda: sebagai pengingat akan keluhuran asal-usul mereka sekaligus lecutan moral agar mereka mengikuti jejak kesalehan sang leluhur (Ibn Katsīr, Tafsīr Ibn Katsir.

Secara etimologi, al-Tabari menjabarkan bahwa istilah Isrāʾīl merujuk pada keturunan Yaʿqūb bin Isḥāq bin Ibrāhīm. Nama "Isrāʾīl" sendiri mengandung makna hamba Allah serta insan pilihan-Nya, di mana kata "Isrā" berarti hamba dan "Īl" merujuk pada Allah, setara dengan struktur nama Jibrīl (al-Tabari, Jāmiʿ al-Bayān.

Hal ini selaras dengan riwayat Ibn ʿAbbās serta penegasan ʿAbdullāh bin al-Ḥārits mengenai asal bahasa Ibrani dari kata tersebut (al-Tabari, Jāmiʿ al-Bayān. Ibn Katsīr menambahkan bahwa panggilan ini sarat akan motivasi, seolah-olah Allah menyeru mereka untuk meneladani ketaatan Nabi Yaʿqūb dalam memeluk Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Sementara itu, al-Saʿdī menegaskan bahwa seruan ini ditujukan kepada komunitas Bani Israil di Madinah dan sekitarnya pada masa itu, serta tetap berlaku bagi generasi-generasi setelah mereka. Mengenai makna perintah "mengingat", al-Baghawi menjelaskan bahwa hal tersebut berarti menjaga karunia Allah, baik melalui kesadaran hati maupun lisan. Ia menekankan bahwa mengingat nikmat adalah inti dari rasa syukur, sebagaimana diujarkan oleh al-Ḥasan bahwa mengingat nikmat itu sendiri merupakan wujud nyata bersyukur (al-Baghawi, Tafsīr al-Baghawī.

Mengenai wujud nikmatnya, Qatādah memaparkan berbagai keistimewaan yang diterima Bani Israil, seperti terbelahnya laut, penyelamatan dari kekejaman Firʿaun, naungan awan, serta turunnya mann, salwā, dan kitab Taurat, meski sebagian ulama mengartikannya secara luas mencakup seluruh karunia Allah bagi kemanusiaan.

Al-Shanqīṭī turut mengulas bahwa pernyataan nikmat di ayat ini bersifat umum (mujaddal atau mujmal) dan baru diperinci dalam ayat-ayat lain seperti kisah naungan awan atau pembebasan dari siksaan Firʿaun. Dari sudut pandang filosofis, al-Rāzī menyebutkan bahwa nikmat paling mendasar dari Allah bagi hamba-Nya adalah nikmat kehidupan itu sendiri, sebab tanpa adanya kehidupan, manusia tidak akan pernah bisa merasakan atau memanfaatkan fasilitas nikmat lainnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya