home masjid

Surah Hud Ayat 44: Hikmah Bencana Banjir dan Ketaatan Alam

Kamis, 17 September 2026 - 10:00 WIB
Surah Hud Ayat 44: Hikmah Bencana Banjir dan Ketaatan Alam

LANGIT7.ID-Jakarta; - Fenomena banjir yang melanda berbagai wilayah hari ini menjadi pengingat nyata akan besarnya potensi kehancuran sekaligus kekuasaan alam di bawah kendali Sang Pencipta. Genangan air yang meluap dan melumpuhkan aktivitas manusia sering kali menyadarkan manusia betapa ringkihnya kehidupan saat berhadapan dengan takdir Ilahi. Dalam Al-Qur'an, peristiwa penyurutan air dan penataan kembali alam pascabencana dahsyat terekam secara abadi dalam Surah Hud ayat 44.

وَقِيلَ يَٰٓأَرْضُ ٱبْلَعِى مَآءَكِ وَيَٰسَمَآءُ أَقْلِعِى وَغِيضَ ٱلْمَآءُ وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ وَٱسْتَوَتْ عَلَى ٱلْجُودِىِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًۭا لِّلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim". (QS. Hud: 44).

Ayat ini mengisahkan momen puncak pascabanjir bandang pada masa Nabi Nuh AS, ketika perintah Allah diturunkan untuk menghentikan azab dan memulihkan bumi. Surat Hud ayat 44 menandai puncak narasi kisah Nabi Nuh AS yang menggambarkan momen transisi dramatis dari fase azab menuju keselamatan.

Setelah kaum yang membangkang ditenggelamkan, Allah memerintahkan bumi menyerap airnya dan langit menghentikan hujan, hingga air surut dan bahtera berlabuh di bukit Judi. Sebagaimana dijelaskan al-Biqai, ayat ini menjadi bukti konkret kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta sekaligus penutup tragis bagi orang-orang zalim.

Perintah Allah kepada bumi untuk menelan airnya—ya ardhu 'bla'i ma'aki—menunjukkan betapa alam tunduk pada kehendak-Nya. Menurut al-Tabari, perintah ini turun setelah pembinasaan kaum Nuh sempurna. Al-Biqai menambahkan bahwa penggunaan kata iblai mengisyaratkan proses penarikan air secara bertahap tanpa mengunyah agar tidak menelan objek lain seperti gunung, sementara al-Alusi memandangnya sebagai metafora penyerapan air. Sementara itu, al-Sa'di menegaskan bahwa perintah ini mencakup air yang memancar dari bumi maupun yang turun dari langit.

Seruan berikutnya ditujukan kepada langit—wa ya sama'u aqli'i—yang berarti perintah untuk menahan dan menghentikan curahan hujan, sebagaimana ditafsirkan oleh al-Tabari dan al-Baghawi. Al-Biqai menekankan bahwa bumi dan langit seketika mematuhi perintah tersebut tanpa penundaan. Hal ini membuktikan ketaatan mutlak seluruh unsur alam kepada Allah Sang Maha Pencipta.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya