Rupiah Melemah ke Rp17.753, Pasar Cermati Arah Kebijakan BI dan The Fed
Nabil
Kamis, 17 September 2026 - 15:47 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.753, Pasar Cermati Arah Kebijakan BI dan The Fed
LANGIT7.ID-Jakarta; Rupiah ditutup melemah 57 poin ke level Rp17.753 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Sebelumnya, rupiah sempat melemah 60 poin di level Rp17.753 dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.696.
Pergerakan rupiah berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia serta sentimen global yang berasal dari perkembangan geopolitik dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuan semakin menyempit menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026.
“Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI,” ujar dia.
Ibrahim menjelaskan kondisi nilai tukar rupiah yang berangsur stabil di kisaran 17.300–17.800, aliran modal asing atau capital inflow yang kembali deras masuk ke pasar domestik, serta postur kebijakan fiskal yang lebih disiplin turut memperkuat ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneternya.
Menurut dia, langkah agresif BI sebelumnya juga menjadi salah satu alasan bank sentral tidak perlu terburu-buru memutar arah kebijakan moneter. BI diketahui telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin, yang dalam analisis Ibrahim disebut sebagai langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
“Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed),” ujar dia.
Pergerakan rupiah berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia serta sentimen global yang berasal dari perkembangan geopolitik dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuan semakin menyempit menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026.
“Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI,” ujar dia.
Ibrahim menjelaskan kondisi nilai tukar rupiah yang berangsur stabil di kisaran 17.300–17.800, aliran modal asing atau capital inflow yang kembali deras masuk ke pasar domestik, serta postur kebijakan fiskal yang lebih disiplin turut memperkuat ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneternya.
Menurut dia, langkah agresif BI sebelumnya juga menjadi salah satu alasan bank sentral tidak perlu terburu-buru memutar arah kebijakan moneter. BI diketahui telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin, yang dalam analisis Ibrahim disebut sebagai langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
“Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed),” ujar dia.