LANGIT7.ID-Jakarta; Rupiah ditutup melemah 57 poin ke level Rp17.753 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Sebelumnya, rupiah sempat melemah 60 poin di level Rp17.753 dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.696.
Pergerakan rupiah berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia serta sentimen global yang berasal dari perkembangan geopolitik dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuan semakin menyempit menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026.
“Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI,” ujar dia.
Ibrahim menjelaskan kondisi nilai tukar rupiah yang berangsur stabil di kisaran 17.300–17.800, aliran modal asing atau capital inflow yang kembali deras masuk ke pasar domestik, serta postur kebijakan fiskal yang lebih disiplin turut memperkuat ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneternya.
Menurut dia, langkah agresif BI sebelumnya juga menjadi salah satu alasan bank sentral tidak perlu terburu-buru memutar arah kebijakan moneter. BI diketahui telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin, yang dalam analisis Ibrahim disebut sebagai langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
“Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed),” ujar dia.
Dengan kondisi tersebut, BI dinilai memiliki ruang untuk memantau perkembangan ekonomi dan pasar tanpa harus segera melakukan pengetatan moneter tambahan.
Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Suhasil menegaskan komitmen untuk menjaga keuangan negara serta memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen yang mampu mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
Pengelolaan keuangan negara diarahkan untuk mendukung perekonomian dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Manfaat APBN bagi masyarakat dan perekonomian diwujudkan melalui berbagai aktivitas ekonomi, antara lain konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, serta kegiatan ekspor.
Prospek RupiahUntuk perdagangan Jumat (18/9/2026), rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.750–Rp17.790 per dolar AS. Rentang tersebut menjadi acuan untuk mencermati pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan berikutnya.
Sementara itu, perhatian pasar domestik selanjutnya akan tertuju pada RDG Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026. Sinyal bertahannya status quo kebijakan moneter disebut semakin menguat di kalangan analis.
Dolar AS MenguatDi pasar global, indeks dolar AS menguat pada Kamis (17/9/2026). Pergerakan dolar AS dipengaruhi sejumlah perkembangan eksternal, termasuk meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan di Timur Tengah serta keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) mengenai suku bunga.
Pasar merespons positif adanya pembicaraan antara Amerika Serikat dan kelompok Houthi yang membantu meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah.
Reuters melaporkan bahwa AS dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengadakan dialog selama akhir pekan. Dalam pertemuan tersebut, Houthi kembali menegaskan komitmen mereka terhadap gencatan senjata tahun 2025 dan menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal AS atau Israel.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu malam juga mengulangi klaimnya bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai dan bahwa AS "diharapkan sudah mendekati akhir" dari perang mereka. Namun, Washington dan Teheran masih berselisih mengenai Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran melalui jalur air vital tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Kebijakan The Fed Jadi PerhatianFederal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75% hingga 4,0% pada Rabu. Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali kekhawatirannya mengenai inflasi. Ia menyatakan terlalu banyak kategori produk dan layanan yang menunjukkan kenaikan harga tahunan di atas 3% dalam periode 6 dan 12 bulan.
Warsh juga mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Rabu menuntut bank sentral AS memangkas suku bunga menjadi 1% "atau lebih rendah". Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2023.
Perbedaan pandangan antara Gedung Putih dan The Fed menjadi salah satu dinamika yang diperhatikan pasar. The Fed masih mencermati tekanan inflasi, sementara Trump mendorong tingkat suku bunga yang jauh lebih rendah.
Outlook PasarDalam jangka pendek, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia pada RDG 22–23 September 2026 menjadi agenda utama yang akan dicermati pasar.
Sementara dari eksternal, pasar akan memperhatikan perkembangan kebijakan The Fed, arah suku bunga AS, kondisi geopolitik Timur Tengah, serta perkembangan hubungan AS dan Iran.
Penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan terhadap pergerakan rupiah. Di sisi lain, stabilitas rupiah pada kisaran 17.300–17.800, capital inflow yang kembali masuk ke pasar domestik, dan kebijakan fiskal yang lebih disiplin menjadi faktor domestik yang dapat menopang mata uang Garuda.
Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.750–Rp17.790 per dolar AS.
(lam)