LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 43 poin ke level Rp17.950 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.906 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, pelemahan rupiah bahkan sempat mencapai 70 poin sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugian menjelang penutupan pasar.
Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan. Dari dalam negeri, pelaku pasar merespons negatif data neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar. Defisit tersebut menjadi yang pertama dalam enam tahun terakhir setelah Indonesia membukukan surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Defisit terjadi karena nilai impor mencapai US$24,81 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspor sebesar US$23,20 miliar. Dari sisi komoditas, defisit migas mencapai US$3,76 miliar yang terutama dipicu impor hasil minyak dan minyak mentah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan impor migas mencapai US$4,51 miliar atau meningkat 70,78% secara tahunan, sedangkan impor nonmigas mencapai US$20,30 miliar atau naik 14,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan inflasi nasional. Inflasi tahunan pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% (year on year/YoY). Kenaikan harga terutama didorong kelompok makanan, perawatan pribadi, dan transportasi. Meski demikian, laju inflasi masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia, tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, "Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 43 point sebelumnya sempat melemah 70 point dilevel Rp.17.950 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.906," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (1/7/2026).
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi meningkatnya kehati-hatian investor terhadap berbagai perkembangan global yang masih berlangsung.
Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dibayangi volatilitas pasar.
Ia mengatakan, "Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.950- Rp.18.010."
Dari eksternal, penguatan dolar AS masih menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Indeks dolar AS menguat pada perdagangan Rabu seiring meningkatnya ketidakpastian mengenai perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Pelaku pasar terus memantau perkembangan pembicaraan di Doha setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS dan memilih proses negosiasi melalui mediator di tingkat teknis. Kondisi tersebut membuat prospek tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat menjadi semakin tidak pasti sekaligus mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar.
Di sisi lain, produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi mempertegas peningkatan pasokan global. Meski harga minyak telah terkoreksi tajam dalam beberapa bulan terakhir, ketidakpastian terkait masa depan Selat Hormuz masih menjadi perhatian investor.
Pasar juga mulai mengalihkan fokus pada rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai akan memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Laporan JOLTS menunjukkan jumlah lowongan kerja pada Mei naik menjadi 7,594 juta, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board AS pada Juni membaik seiring meredanya harga bahan bakar setelah tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada data Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang dijadwalkan rilis pada Rabu malam waktu setempat, sebelum laporan Nonfarm Payrolls (NFP) diumumkan lebih awal pada Kamis karena pekan perdagangan AS dipersingkat oleh hari libur nasional.
Ke depan, arah pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Di dalam negeri, investor akan terus mencermati respons pasar terhadap defisit neraca perdagangan dan perkembangan inflasi. Sementara dari luar negeri, hasil data tenaga kerja AS serta ekspektasi kebijakan Federal Reserve berpotensi menjadi penentu kekuatan dolar AS dan arah pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
(lam)