LANGIT7.ID-Jenewa, Swiss; Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Jenewa, Swiss, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon berkesempatan mengunjungi
Musée d’ethnographie de Genève (MEG), salah satu museum etnografi penting dengan koleksi yang merekam perjalanan panjang keragaman budaya dunia.
Musée d’ethnographie de Genève didirikan sejak 1901, namun sejarah koleksi museum tersebut telah bermula sejak awal abad ke-18. “Sangat menarik melihat langsung berbagai koleksi dari banyak negara dan komunitas di dunia, termasuk koleksi dari Indonesia yang berasal dari Papua, Kalimantan, Jawa, dan berbagai wilayah Nusantara lainnya,” ungkap Menbud.
Musée d’ethnographie de Genève telah melakukan digitalisasi register inventaris historis koleksinya sejak tahun 1867 hingga 1993. Dokumentasi seperti ini sangat penting untuk membantu masyarakat memahami lebih jauh sejarah dan perjalanan setiap koleksi.
Pengelolaan dokumentasi koleksi museum sangat penting untuk dapat diterapkan pada museum-museum di Indonesia. Dokumentasi koleksi merupakan salah satu bentuk pelestarian data yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, termasuk riset, pengembangan, perawatan, dan pemanfaatan.
“Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia, membangun jejaring dengan museum-museum dunia, serta membuka peluang kolaborasi dalam riset, pertukaran pengetahuan, digitalisasi, dan pelindungan warisan budaya,” jelas Menbud.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan RI dalam kunjungan tersebut di antaranya Direktur Jenderal Pelindungan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; serta Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, I Made Dharma Suteja.
Kementerian Kebudayaan melihat pentingnya penguatan tata kelola data koleksi sebagai bagian dari ekosistem permuseuman yang berkelanjutan. Digitalisasi inventaris historis tidak hanya menjadi sarana penyimpanan informasi, tetapi juga dapat membuka akses terhadap pengetahuan mengenai asal-usul, konteks, serta perjalanan koleksi dari waktu ke waktu.
Melalui kunjungan tersebut, pengalaman dan praktik yang dipelajari dari MEG diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan sistem dokumentasi koleksi museum di Indonesia. Dengan pengelolaan data yang semakin terintegrasi, koleksi museum dapat terus dipelajari, dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.
(lam)