PW Persis Jakarta Minta Mubaligh Berdakwah Berdasar Ilmu dan Adaptif
Ahmad zuhdi
Sabtu, 26 September 2026 - 17:28 WIB
PW Persis Jakarta Minta Mubaligh Berdakwah Berdasar Ilmu dan Adaptif. Foto: Istimewa.
Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW Persis) DKI Jakarta menggelar kegiatan Pembinaan Mubaligh di kantor PW Persis DKI Jakarta pada Sabtu (26/9/2026). Ketua PW Persis DKI Jakarta, Ustaz Sofyan Munawar, hadir sebagai pemateri utama dan menekankan bahwa aktivitas dakwah Islam harus senantiasa dibangun di atas fondasi ilmu (bashirah), bukan sekadar mengandalkan semangat atau niat semata.
Dalam pemaparannya, Ustaz Sofyan menjelaskan bahwa para sahabat yang dahulu diutus oleh Rasulullah ﷺ untuk berdakwah merupakan figur-figur pilihan yang memiliki kedalaman ilmu yang sangat mumpuni. Oleh sebab itu, tingkat keberhasilan seorang da'i tidak boleh diukur dari seberapa sering ia tampil di publik atau menjadi viral di media sosial, melainkan dari sejauh mana ilmunya mampu menghadirkan hidayah dan membimbing masyarakat menuju kebaikan.
“Ustaz yang berhasil bukan yang paling sering tampil, apalagi viral setiap hari, tapi yang paling banyak menghadirkan hidayah melalui ilmunya,” ujar Ustaz Sofyan Munawar dalam pemaparannya.
Lebih lanjut, Ustaz Sofyan menguraikan lima pilar utama yang harus menjadi pilar karakter bagi para asatiz dan da'i Persis. Pilar tersebut meliputi keharusan berilmu (ilman) agar setiap rujukan dan dalil yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, berijtihad dengan menguasai ushul fiqh agar mampu menempatkan dalil secara tepat, serta berakhlak (akhlaqan) yang mencakup sifat ikhlas, tawadu, dan ketulusan hati.
Selain itu, da'i juga dituntut untuk berhikmah (hikmatan) dengan memahami kondisi jamaah, serta berkhidmat (khidmatan) dalam menjadikan ilmu sebagai bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat secara profesional.
Terkait dengan pendekatan metodologi dakwah, ia mengingatkan agar para mubaligh senantiasa mengedepankan cara-cara yang persuasif dan penuh kasih sayang. Pendekatan dakwah sejatinya bertujuan untuk merangkul dan memperbaiki kehidupan umat, bukan untuk mempermalukan atau menghakimi sesama.
“Dakwah berarti mengajak bukan memaksa, membimbing bukan menghakimi, dan memperbaiki bukan mempermalukan,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Ustaz Sofyan menjelaskan bahwa para sahabat yang dahulu diutus oleh Rasulullah ﷺ untuk berdakwah merupakan figur-figur pilihan yang memiliki kedalaman ilmu yang sangat mumpuni. Oleh sebab itu, tingkat keberhasilan seorang da'i tidak boleh diukur dari seberapa sering ia tampil di publik atau menjadi viral di media sosial, melainkan dari sejauh mana ilmunya mampu menghadirkan hidayah dan membimbing masyarakat menuju kebaikan.
“Ustaz yang berhasil bukan yang paling sering tampil, apalagi viral setiap hari, tapi yang paling banyak menghadirkan hidayah melalui ilmunya,” ujar Ustaz Sofyan Munawar dalam pemaparannya.
Lebih lanjut, Ustaz Sofyan menguraikan lima pilar utama yang harus menjadi pilar karakter bagi para asatiz dan da'i Persis. Pilar tersebut meliputi keharusan berilmu (ilman) agar setiap rujukan dan dalil yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, berijtihad dengan menguasai ushul fiqh agar mampu menempatkan dalil secara tepat, serta berakhlak (akhlaqan) yang mencakup sifat ikhlas, tawadu, dan ketulusan hati.
Selain itu, da'i juga dituntut untuk berhikmah (hikmatan) dengan memahami kondisi jamaah, serta berkhidmat (khidmatan) dalam menjadikan ilmu sebagai bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat secara profesional.
Terkait dengan pendekatan metodologi dakwah, ia mengingatkan agar para mubaligh senantiasa mengedepankan cara-cara yang persuasif dan penuh kasih sayang. Pendekatan dakwah sejatinya bertujuan untuk merangkul dan memperbaiki kehidupan umat, bukan untuk mempermalukan atau menghakimi sesama.
“Dakwah berarti mengajak bukan memaksa, membimbing bukan menghakimi, dan memperbaiki bukan mempermalukan,” tegasnya.