Irak Turuti AS Larang Penerbangan Iran, Tapi Justru Diprotes Warga dan Ancam Bakal Duduki Bandara
Lusi mahgriefie
Senin, 28 September 2026 - 14:00 WIB
Ilustrasi: ist
Pemerintah Irak tengah menghadapi aksi protes warga akibat menuruti Amerika Serikat (AS), yaitu melarang penerbangan dari maupun menuju negara tersebut, terkait sanksi penerbangan terhadap Iran. Aksi protes meluas dari Basra hingga Baghdad.
Kelompok-kelompok perlawanan mengancam akan menggelar aksi duduk di bandara-bandara di seluruh negeri, sementara kabar bahwa Washington belum mencairkan dana milik Irak semakin memicu kemarahan terkait keputusan Baghdad tersebut.
Keputusan Irak untuk tunduk pada AS telah memicu gejolak politik di dalam negeri. Faksi perlawanan, blok parlemen, dan tokoh agama menuduh pemerintahan Perdana Menteri Ali al-Zaidi tunduk pada dikte Amerika, dan mengkhianati ikatan persaudaraan yang mendalam antara Baghdad dan Teheran.
Krisis ini bermula setelah Departemen Keuangan AS pada 8 September menjatuhkan sanksi terhadap 27 maskapai penerbangan Iran dan memperingatkan bahwa bandara, pemasok bahan bakar, serta perusahaan layanan darat (ground-handling) yang berurusan dengan maskapai yang terkena sanksi akan menghadapi sanksi sekunder.
Perusahaan layanan darat Irak berhenti melayani penerbangan Iran, yang menyebabkan maskapai-maskapai tersebut menangguhkan operasionalnya.
Baca juga:Tunduk Pada AS, Uni Emirat Arab dan Irak Ikut Larang Maskapai Iran Beroperasi
Bandara Internasional Najaf, bandara terakhir di Irak yang masih melayani penerbangan ke Iran dan merupakan pusat utama lalu lintas peziarah Syiah, juga menghentikan seluruh layanan mulai pukul 02.00 dini hari pada hari Jumat (25/9) hingga pemberitahuan lebih lanjut. Bandara Erbil, Sulaymaniyah, dan Kirkuk juga mengambil langkah serupa.
Kelompok-kelompok perlawanan mengancam akan menggelar aksi duduk di bandara-bandara di seluruh negeri, sementara kabar bahwa Washington belum mencairkan dana milik Irak semakin memicu kemarahan terkait keputusan Baghdad tersebut.
Keputusan Irak untuk tunduk pada AS telah memicu gejolak politik di dalam negeri. Faksi perlawanan, blok parlemen, dan tokoh agama menuduh pemerintahan Perdana Menteri Ali al-Zaidi tunduk pada dikte Amerika, dan mengkhianati ikatan persaudaraan yang mendalam antara Baghdad dan Teheran.
Krisis ini bermula setelah Departemen Keuangan AS pada 8 September menjatuhkan sanksi terhadap 27 maskapai penerbangan Iran dan memperingatkan bahwa bandara, pemasok bahan bakar, serta perusahaan layanan darat (ground-handling) yang berurusan dengan maskapai yang terkena sanksi akan menghadapi sanksi sekunder.
Perusahaan layanan darat Irak berhenti melayani penerbangan Iran, yang menyebabkan maskapai-maskapai tersebut menangguhkan operasionalnya.
Baca juga:Tunduk Pada AS, Uni Emirat Arab dan Irak Ikut Larang Maskapai Iran Beroperasi
Bandara Internasional Najaf, bandara terakhir di Irak yang masih melayani penerbangan ke Iran dan merupakan pusat utama lalu lintas peziarah Syiah, juga menghentikan seluruh layanan mulai pukul 02.00 dini hari pada hari Jumat (25/9) hingga pemberitahuan lebih lanjut. Bandara Erbil, Sulaymaniyah, dan Kirkuk juga mengambil langkah serupa.