home edukasi & pesantren

Kuliah Umum IAIPI Garut

Prof Syamsuddin Arif Soroti Ancaman Ateisme Generasi Muda

Rabu, 30 September 2026 - 07:07 WIB
Prof Syamsuddin Arif Soroti Ancaman Ateisme Generasi Muda. Foto: Istimewa.

Tantangan keimanan generasi muda di era digital tidak hanya datang melalui perubahan gaya hidup, tetapi juga melalui masuknya berbagai gagasan filosofis yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Persoalan tersebut menjadi perhatian Guru Besar Filsafat Islam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo, Prof Syamsuddin Arif, saat menyampaikan kuliah umum di Institut Agama Islam (IAI) Persis Garut.

Dalam kuliah tersebut, Prof Syamsuddin mengajak peserta memahami ateisme bukan hanya sebagai sikap tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga sebagai sebuah konstruksi pemikiran yang memiliki sejumlah argumentasi filosofis. Karena itu, menurut materi yang disampaikannya, tantangan terhadap generasi muda perlu dijawab dengan penguatan keilmuan sekaligus kemampuan berpikir kritis.

Prof Syamsuddin memetakan sejumlah argumentasi yang kerap digunakan dalam pemikiran ateistik. Di antaranya empirisisme, evidensialisme, evolusionisme, infinitisme, eternalisme, apatisme, dan agnostisisme. Ketujuh argumentasi tersebut berangkat dari pertanyaan berbeda mengenai Tuhan, mulai dari persoalan keterlihatan, bukti, evolusi, sebab pertama, keabadian alam, kejahatan, hingga keterbatasan pengetahuan manusia.

"Salah satu persoalan yang dibahas adalah kecenderungan menyamakan sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan sesuatu yang tidak ada. Dalam argumentasi empirisisme, misalnya, muncul pertanyaan, kalau Tuhan itu ada, mengapa kita tidak bisa melihatnya? Pertanyaan tersebut kemudian diarahkan kepada kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada karena tidak terlihat," ujarnya dalam paparan di IAI Persis Garut, dikutip Rabu (30/9/2026).

Prof Syamsuddin menunjukkan bahwa asumsi tersebut bermasalah karena tidak semua sesuatu yang ada harus dapat dilihat. Materi kuliahnya memberikan sejumlah contoh seperti energi, gravitasi, rasa sakit, panas, bau, dan jiwa yang keberadaannya tidak selalu dapat diamati secara langsung oleh mata.

Persoalan serupa muncul ketika keberadaan Tuhan dipertanyakan berdasarkan bukti ilmiah. Pertanyaan “Apa buktinya kalau Tuhan itu ada?” atau “Tidak ada bukti ilmiah bahwa Tuhan itu ada” menurut materi kuliah perlu dilihat kembali dari cara mendefinisikan bukti.

Baca Juga:Pemberihan Dosa Syirik dan Penerimaan Taubat Bani Israil

Berita Lainnya