Tafsir Al-A'raf Ayat 179: Manusia yang Lebih Sesat dari Hewan Ternak
Ahmad zuhdi
Senin, 05 Oktober 2026 - 12:38 WIB
Tafsir Al-A'raf Ayat 179: Manusia yang Lebih Sesat dari Hewan Ternak
Ayat 179 dari Surat Al-A'raf merupakan salah satu penegasan paling tajam dalam Al-Qur'an mengenai kondisi manusia yang menyia-nyiakan potensi fitrah pemberian Allah ﷻ. Berada di tengah rangkaian kisah dan perumpamaan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, ayat ini hadir tepat setelah kisah Bal'am bin Bā'irā pada ayat 175–176 yang menggambarkan sosok yang berpaling dari ayat-ayat Allah.
Imam al-Biqā'ī dalam Naẓm al-Durar menjelaskan bahwa ayat ini berposisi sebagai fadhālah atau kesimpulan dan penutup dari pembahasan sebelumnya. Kedudukan ayat ini sangat krusial karena menegaskan dua hakikat sekaligus, yaitu realitas ketetapan takdir Allah ﷻ serta kriteria orang-orang yang tersesat akibat matinya fungsi hati, mata, dan telinga mereka.
Sebagaimana ditegaskan oleh al-Sa'dī dalam Taysīr al-Karīm al-Raḥmān, ayat ini memberikan penjelasan gamblang mengenai banyaknya golongan yang menyimpang dan memilih untuk mengikuti jejak Iblis yang terlaknat.
Pada penggalan pertama, wa laqad dzara'nā lijahannama katsīram minal-jinni wal-ins, Imam al-Ṭabarī dalam Jāmiʿ al-Bayān menegaskan bahwa kata dzara'nā bermakna khalaqnā atau Kami telah menciptakan. Makna ini dikuatkan oleh riwayat al-Ḥasan serta penafsiran Ibnu Katsir yang menjelaskan bahwa Allah ﷻ telah menciptakan dan menyiapkan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk menjadi penghuni neraka Jahannam melalui amalan-amalan yang mereka kerjakan.
Hal ini berkaitan erat dengan takdir azali, di mana Allah ﷻ telah mengetahui dan mencatat seluruh perbuatan makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sementara itu, al-Baghawī memberikan analisis kebahasaan mengenai huruf lam pada kata lijahannama yang dapat dimaknai sebagai lam al-'āqibah (huruf yang menunjukkan akibat akhir).
Artinya, mereka diciptakan bukan dengan tujuan awal untuk disiksa, melainkan perbuatan dan pilihan hidup merekalah yang berujung pada kebinasaan di neraka. Terkait urutan penyebutan, al-Biqā'ī menambahkan bahwa jin disebutkan lebih dahulu daripada manusia karena masyarakat saat itu sering mengagungkan, menakuti, serta menyembah jin melalui penyesatan yang dihiasi oleh makhluk halus tersebut.
Selanjutnya, penggalan lahum qulūbun lā yafqahūna bihā menjelaskan sebab utama yang membuat mereka terperosok ke dalam neraka, yaitu ketiadaan fungsi pemahaman pada hati mereka. Al-Baghawī mengartikannya sebagai ketidakmampuan akal dan hati untuk mencerna kebenaran.
Imam al-Biqā'ī dalam Naẓm al-Durar menjelaskan bahwa ayat ini berposisi sebagai fadhālah atau kesimpulan dan penutup dari pembahasan sebelumnya. Kedudukan ayat ini sangat krusial karena menegaskan dua hakikat sekaligus, yaitu realitas ketetapan takdir Allah ﷻ serta kriteria orang-orang yang tersesat akibat matinya fungsi hati, mata, dan telinga mereka.
Sebagaimana ditegaskan oleh al-Sa'dī dalam Taysīr al-Karīm al-Raḥmān, ayat ini memberikan penjelasan gamblang mengenai banyaknya golongan yang menyimpang dan memilih untuk mengikuti jejak Iblis yang terlaknat.
Pada penggalan pertama, wa laqad dzara'nā lijahannama katsīram minal-jinni wal-ins, Imam al-Ṭabarī dalam Jāmiʿ al-Bayān menegaskan bahwa kata dzara'nā bermakna khalaqnā atau Kami telah menciptakan. Makna ini dikuatkan oleh riwayat al-Ḥasan serta penafsiran Ibnu Katsir yang menjelaskan bahwa Allah ﷻ telah menciptakan dan menyiapkan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk menjadi penghuni neraka Jahannam melalui amalan-amalan yang mereka kerjakan.
Hal ini berkaitan erat dengan takdir azali, di mana Allah ﷻ telah mengetahui dan mencatat seluruh perbuatan makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sementara itu, al-Baghawī memberikan analisis kebahasaan mengenai huruf lam pada kata lijahannama yang dapat dimaknai sebagai lam al-'āqibah (huruf yang menunjukkan akibat akhir).
Artinya, mereka diciptakan bukan dengan tujuan awal untuk disiksa, melainkan perbuatan dan pilihan hidup merekalah yang berujung pada kebinasaan di neraka. Terkait urutan penyebutan, al-Biqā'ī menambahkan bahwa jin disebutkan lebih dahulu daripada manusia karena masyarakat saat itu sering mengagungkan, menakuti, serta menyembah jin melalui penyesatan yang dihiasi oleh makhluk halus tersebut.
Selanjutnya, penggalan lahum qulūbun lā yafqahūna bihā menjelaskan sebab utama yang membuat mereka terperosok ke dalam neraka, yaitu ketiadaan fungsi pemahaman pada hati mereka. Al-Baghawī mengartikannya sebagai ketidakmampuan akal dan hati untuk mencerna kebenaran.