LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat 179 dari Surat Al-A'raf merupakan salah satu penegasan paling tajam dalam Al-Qur'an mengenai kondisi manusia yang menyia-nyiakan potensi fitrah pemberian Allah ﷻ. Berada di tengah rangkaian kisah dan perumpamaan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, ayat ini hadir tepat setelah kisah Bal'am bin Bā'irā pada ayat 175–176 yang menggambarkan sosok yang berpaling dari ayat-ayat Allah.
Imam al-Biqā'ī dalam Naẓm al-Durar menjelaskan bahwa ayat ini berposisi sebagai fadhālah atau kesimpulan dan penutup dari pembahasan sebelumnya. Kedudukan ayat ini sangat krusial karena menegaskan dua hakikat sekaligus, yaitu realitas ketetapan takdir Allah ﷻ serta kriteria orang-orang yang tersesat akibat matinya fungsi hati, mata, dan telinga mereka.
Sebagaimana ditegaskan oleh al-Sa'dī dalam Taysīr al-Karīm al-Raḥmān, ayat ini memberikan penjelasan gamblang mengenai banyaknya golongan yang menyimpang dan memilih untuk mengikuti jejak Iblis yang terlaknat.
Pada penggalan pertama, wa laqad dzara'nā lijahannama katsīram minal-jinni wal-ins, Imam al-Ṭabarī dalam Jāmiʿ al-Bayān menegaskan bahwa kata dzara'nā bermakna khalaqnā atau Kami telah menciptakan. Makna ini dikuatkan oleh riwayat al-Ḥasan serta penafsiran Ibnu Katsir yang menjelaskan bahwa Allah ﷻ telah menciptakan dan menyiapkan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk menjadi penghuni neraka Jahannam melalui amalan-amalan yang mereka kerjakan.
Hal ini berkaitan erat dengan takdir azali, di mana Allah ﷻ telah mengetahui dan mencatat seluruh perbuatan makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sementara itu, al-Baghawī memberikan analisis kebahasaan mengenai huruf lam pada kata lijahannama yang dapat dimaknai sebagai lam al-'āqibah (huruf yang menunjukkan akibat akhir).
Artinya, mereka diciptakan bukan dengan tujuan awal untuk disiksa, melainkan perbuatan dan pilihan hidup merekalah yang berujung pada kebinasaan di neraka. Terkait urutan penyebutan, al-Biqā'ī menambahkan bahwa jin disebutkan lebih dahulu daripada manusia karena masyarakat saat itu sering mengagungkan, menakuti, serta menyembah jin melalui penyesatan yang dihiasi oleh makhluk halus tersebut.
Selanjutnya, penggalan lahum qulūbun lā yafqahūna bihā menjelaskan sebab utama yang membuat mereka terperosok ke dalam neraka, yaitu ketiadaan fungsi pemahaman pada hati mereka. Al-Baghawī mengartikannya sebagai ketidakmampuan akal dan hati untuk mencerna kebenaran.
Al-Sa'dī memperdalam makna ini dengan menyatakan bahwa ilmu dan kebenaran tidak pernah meresap ke dalam hati mereka, melainkan hanya sampai pada batas tegaknya hujah atas pelanggaran yang mereka lakukan. Menurut al-Biqā'ī, pemahaman atau fikh yang dimaksud di sini adalah kemampuan kritis untuk merenungkan dalil-dalil tauhid dan kebenaran kenabian. Pemahaman inilah yang disebut sebagai al-fiqh al-mus'id atau pemahaman yang membawa keselamatan, sehingga ilmu apa pun yang dimiliki seseorang tidak akan berguna jika tidak menuntunnya pada pemahaman tauhid tersebut.
Penggalan berikutnya, wa lahum a'yunun lā yubṣirūna bihā wa lahum ādzānun lā yasmā'ūna bihā, menyoroti matinya fungsi penglihatan dan pendengaran spiritual. Al-Biqā'ī mencatat hikmah didahulukannya penyebutan mata daripada telinga, karena indra penglihatan memiliki jangkauan manfaat yang lebih luas, bahkan dapat ditangkap oleh anak kecil yang belum memahami bahasa ucapan.
Peniadaan fungsi penglihatan dan pendengaran dalam ayat ini bukanlah peniadaan indra fisik, melainkan peniadaan manfaat akhirnya untuk kehidupan akhirat. Meskipun mereka memiliki pandangan fisik yang tajam dan pendengaran yang tajam, al-Sa'dī menegaskan bahwa mereka kehilangan faedah hakiki dari kedua indra tersebut karena tidak menggunakannya untuk menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ serta menyerap pesan-pesan ilahi ke dalam sanubari mereka.
Penegasan ulā'ika kal-an'āmi bal hum aḍall memberikan gambaran perumpamaan yang sangat mendalam. Al-Sa'dī menjelaskan bahwa manusia dan jin yang memiliki sifat-sifat buruk ini disamakan dengan binatang ternak karena keduanya sama-sama kehilangan fungsi akal sehat dan lebih memilih kenikmatan fana daripada kedamaian abadi. Bahkan, posisi mereka ditegaskan lebih sesat daripada binatang ternak. Hal ini disebabkan binatang ternak masih menggunakan instingnya sesuai dengan tujuan penciptaannya serta mampu mengenali hal yang membahayakan dirinya, sedangkan manusia yang dianugerahi akal justru menyalahgunakannya untuk menentang fitrah dan merusak diri mereka sendiri.
Ayat ini ditutup dengan kalimat ulā'ika humul-ghāfilūn yang membongkar akar dari segala penyimpangan tersebut, yaitu kelalaian. Al-Sa'dī menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang lalai dari hal-hal yang paling mendasar dan bermanfaat, seperti keimanan, ketaatan, dan zikir kepada Allah ﷻ. Padahal, kejelasan fasilitas berupa hati, pendengaran, dan penglihatan dianugerahkan agar menjadi sarana pembantu dalam menjalankan perintah-perintah ilahi, namun mereka justru memalingkannya untuk tujuan yang bertolak belakang.
Secara keseluruhan, rangkaian ayat ini memberikan pelajaran berharga mengenai hubungan antara ketetapan takdir dan ikhtiar manusia. Ketetapan Allah ﷻ berjalan selaras dengan ilmu-Nya yang azali atas amalan yang dipilih oleh hamba-Nya. Ayat ini menjadi peringatan keras akan pentingnya menjaga fungsi anggota tubuh, sebab keabaian dalam merenungkan dalil tauhid dapat menurunkan derajat manusia hingga lebih rendah daripada binatang. Pada akhirnya, sikap lalai dari mengingat Allah ﷻ merupakan pangkal dari segala kerugian, dan kelengkapan indra yang tidak dimanfaatkan sesuai fitrah penciptaannya kelak hanya akan menjadi saksi kebinasaan bagi pemiliknya.
(zhd)