home global news

Berkaca Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khatab

Jum'at, 09 Oktober 2026 - 10:55 WIB
Khalifah Umar bin Khattab memberikan teladan kepemimpinan melalui kesederhanaan, keadilan, dan tanggung jawab terhadap rakyat. Baginya, jabatan adalah amanah yang harus dijalankan tanpa nepotisme dan
Oleh: Anwar Abbas

LANGIT7.ID-Salah satu khalifah yang sangat terkenal dalam dunia Islam adalah khalifah Umar bin Khattab. Dia naik menjadi Khalifah menggantikan Abu Bakar Ashshiddiq tahun 634 Masehi (13 Hijriah) dan memimpin selama 10 tahun (hingga tahun 644 Masehi / 23 Hijriah). Pada masanya dunia Islam meluas dengan cepat karena keberhasilannya dalam menaklukkan dua kekaisaran besar kala itu, yaitu Kekaisaran Sassanid (Persia) dan sebagian besar dari wilayah Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur). Kalau dipetakan ke dalam peta dunia hari ini maka luas wilayah kekuasaannya sekitar 2,2 juta mil persegi meliputi 15 negara yaitu negara-negara yang ada di semenanjung Arabia seperti yaman, oman, uni emirat arab, qatar, bahrain dan kuwait. Kawasan syam seperti palestina, yordania, suriah dan lebanon. Juga kawasan irak dan iran. Bahkan wilayah islam pada masanya menyebar ke kawasan kaukasus dan sebagian asia tengah seperti azerbaijan, armenia, georgia, turkmenistan, khurasan, afghanistan dan pakistan juga ke Afrika utara seperti mesir dan libya.

Karena kehebatan dan kebesarannya Umar bin Khattab tampil menjadi seorang pemimpin yang sangat terkenal yang ditakuti oleh kawan maupun lawan-lawannya karena umar selain memiliki fisik yang kuat juga memiliki keberanian dan ketegasan yang luar biasa, terutama dalam menegakkan hukum dan menjunjung tinggi prinsip keadilan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap keluarga dan para pejabatnya sendiri dimana jika mereka melanggar aturan maka Umar tidak segan-segan menindaknya. Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang memiliki rasa takut luar biasa kepada Allah SWT. Dia sadar betul sebagai pemimpin dia harus mempertanggung jawabkan semua yang dilakukannya nanti di hari akhir. Oleh karena itu meskipun wilayah kekuasaannya sangat luas Umar bin Khattab lebih memilih hidup sederhana dan jauh dari kemewahan.

Di samping itu khalifah umar juga tidak mau keluarganya cawe-cawe bagi mendapatkan fasilitas-fasilitas khusus apalagi untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan. Dia memiliki seorang anak yang dikenal cerdas dan berwibawa serta memiliki pengaruh luas. Namanya Abdullah bin Umar. Oleh sebagian kaum muslimin anaknya disarankan untuk bisa menggantikannya sebagai khalifah tetapi usul itu di tolak oleh Umar. Begitu juga umar pernah menolak usul agar anaknya tersebut diangkat menjadi Gubernur di Kufah, karena Umar menganggap nepotisme itu sebagai salah satu bentuk pengkhianatan terhadap amanah umat. Di samping itu yang juga perlu diketahui khalifah Umar bin khattab sebenarnya bukanlah pemimpin yang miskin. Dia memiliki aset pribadi yang cukup besar berupa ladang dan properti. Tetapi oleh Umar sebagian besar hasilnya dipergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Disinilah kita melihat menariknya kepemimpinan yang ditampilkan oleh Umar. Meskipun dia merupakan pemimpin dari sebuah imperium yang sangat besar tapi Umar hidup dalam kesederhanaan. Dia tidak segan-segan memakai pakaian yang penuh tambalan dan makan dengan menu yang sangat sederhana terkadang hanya cukup dengan roti tanpa ada lauk pauknya. Hal itu dilakukan Umar agar dia tetap bisa merasakan penderitaan rakyatnya. Dia tinggal di rumah sederhana seperti rumah-rumah yang ada di kota medinah pada umumnya. Tempat tidurnya pun sering beralaskan tikar kasar atau tumpukan batu bata , tanpa kasur atau ranjang empuk layaknya seorang pemimpin sebuah negara. Umar dikenal dekat dengan rakyatnya.

Dia sering berkeliling-keliling untuk melihat secara langsung keadaan umatnya. Bahkan di malam hari beliau sering keluar rumah sendirian untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan. Karena dalam pandangan Umar orang yang paling patut untuk dibantu pertama sekali adalah orang yang fakir yaitu orang miskin tapi tidak mau meminta-minta dan tidak mau memperlihatkan kemiskinannya. Bila beliau bertemu dengan orang yang seperti itu maka beliau tidak segan-segan untuk memanggul sendiri karung gandum yang akan dia berikan kepada mereka. Umar memang dikenal sebagai seorang pemimpin yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Dia tidak hanya merasa bertanggung jawab terhadap rakyatnya saja tetapi juga terhadap makhluk lainnya. Hal itu tercermin dalam ucapannya yang sangat terkenal yang mengatakan : Seandainya ada seekor keledai (atau anak kambing) tersandung di kota Bagdad (atau di syam/luar Madinah) karena jalanan rusak, maka aku sangat takut sekali Allah akan bertanya dan menuntutku nanti di hari kiamat kelak. Demikianlah umar dia adalah seorang pemimpin yang cinta damai.

Ketika tentara Islam mengepung Yerussalem Patriak Sophronius (pemimpin tertinggi umat Kristen/Gereja Ortodoks di Yerusalem saat itu) mengatakan dia akan menyerahkan kota yerusalem secara damai ke tangan umat islam jika umar mau datang ke yerussalem dan menandatangani piagam perjanjian perdamaian dengan mereka secara langsung. Tawaran itu disambut dan dikabulkan oleh Umar. Dan yang membuat sang Patriak terpana adalah ketika mereka melihat umar datang bersama pembantunya dimana mereka naik satu ekor unta secara bergantian. Saat memasuki kota yerusalem giliran Umar lah yang memegang tali kekang unta sementara sang pembantu duduk di atasnya. Hal demikian tentu saja membuat sang patriak terkagum- kagum karena tidak terbayang oleh dia ada seorang pemimpin besar seperti Umar berbuat seperti itu. Tapi itulah umar. Dia melakukan itu semua bukan dalam rangka pencitraan tapi sudah merupakan tuntutan dan panggilan dari hati nurani dan pemahaman keagamaannya. Dalam hal pendapatan Umar juga tidak mau gajinya dinaikkan dari gaji yang pernah diterima oleh pendahulunya Abu bakar dimana jumlahnya terbilang sangat kecil karena hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar keluarganya. Padahal untuk melaksanakan tugasnya tersebut Umar terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai pedagang, sehingga ia boleh dikatakan tidak memiliki penghasilan tambahan lain. Melihat hal demikian dan melihat pemimpin mereka di tengah-tengah kenaikan harga, hidup dengan pakaian penuh tambalan dan makan makanan yang sangat bersahaja maka para sahabat senior—seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah, dan Zubair—berkumpul untuk merumuskan kenaikan tunjangan bagi Umar.

Tetapi karena mereka tahu watak Umar yang keras dan tegas, mereka tidak berani menyampaikan usulan tersebut secara langsung tapi melalui putri beliau Hafsah binti Umar (salah satu istri Rasulullah SAW). Tetapi usulan tersebut juga ditolak oleh Umar karena dia tidak ingin gaya hidupnya melampaui standar kesederhanaan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan sahabat dekatnya Abu Bakar ashshiddiq pemimpin pendahulunya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya