home masjid

Bedah Tafsir Al-Baqarah Ayat 76: Sisi Ganda Kaum Munafik

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:31 WIB
Bedah Tafsir Al-Baqarah Ayat 76: Sisi Ganda Kaum Munafik
Ayat ke-76 dari Surat Al-Baqarah menempati posisi strategis di tengah rangkaian pengungkapan karakteristik kaum munafik, khususnya dari kalangan Ahl al-Kitāb, dan sikap manipulatif mereka terhadap kaum mukmin. Al-Biqāʿī memposisikan ayat ini sebagai kelanjutan pemaparan Allah mengenai pola tutur dan tipu muslihat mereka setelah ayat-ayat sebelumnya menelanjangi hakikat kemunafikan secara umum.

وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍۢ قَالُوٓا۟ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ ٱللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَآجُّوكُم بِهِۦ عِندَ رَبِّكُمْ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kamipun telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?" (QS Al-Baqarah (البقرة): 76).

Sebagian mufassir seperti al-Suddī mencatat bahwa latar belakang turunnya ayat ini berkaitan dengan sekelompok Yahudi yang secara lahiriah menyatakan keimanan namun secara internal tetap memegang prinsip kemunafikan mereka.Penggalan pertama ayat ini merekam dinamika psikologis kaum munafik tatkala mereka berpapasan langsung dengan orang-orang beriman.

Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa ayat ini merupakan kabar langsung dari Allah tentang golongan Yahudi yang sempat membuat para sahabat berputus asa, di mana mereka mengucapkan kalimat keimanan hanya untuk meredam kecurigaan. Ibn Katsir memperkuat keterangan dari Ibn ʿAbbās bahwa pengakuan iman tersebut diberikan dengan batasan bahwa loyalitas keimanan itu eksklusif untuk kalangan mereka sendiri.

Sementara itu, al-Baghawī dan al-Saʿdī sepakat bahwa ucapan tersebut sekadar basa-basi lisan yang kosong dari keyakinan hati. Analisis kebahasaan yang tajam dari al-Biqāʿī menyoroti penggunaan kata kerja lampau yang menunjukkan bahwa pengakuan itu hanyalah peristiwa sesaat tanpa meneguhkan sebuah karakter yang menetap.

Sebaliknya, penggalan kedua mengekspos situasi saat mereka kembali ke dalam lingkaran internal tanpa kehadiran pihak luar. Al-Baghawī mengidentifikasi para tokoh sentral seperti Kaʿb ibn al-Ashraf dan pimpinan Yahudi lainnya yang memimpin perundingan rahasia tersebut. Al-Saʿdī menggambarkan betapa eksklusifnya ruang pertemuan itu dari pihak di luar keyakinan mereka.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya