Kajian Hadis: Bahaya Lisan dan Dampak Sebuah Kalimat
Dalam kehidupan sehari-hari, lisan seringkali dianggap sebagai anggota tubuh yang kecil dan mudah digerakkan, namun dampaknya dapat menentukan keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radiallahu anhu:
«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»
Artinya: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang diridai Allah tanpa terlalu memikirkannya, lalu Allah mengangkat derajatnya dengan kalimat tersebut. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah tanpa terlalu memikirkannya, lalu ia terjerumus ke dalam Neraka Jahanam disebabkan kalimat tersebut." (HR Al-Bukhari).
Menurut dosen IAIPI Bandung, Ustaz Robi Permana, setiap patah kata yang keluar dari lisan manusia tidak pernah luput dari pengawasan. Allah SWT menegaskan bahwa setiap ucapan selalu dicatat oleh malaikat pengawas, sebagaimana firman-Nya dalam QS Qaf [50] ayat 18: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."
Sebaliknya, kalimat yang baik dan menyeru pada kebaikan akan menjadi jalan terangkatnya derajat seseorang di sisi Allah SWT. Hal ini sejalan dengan penegasan Allah dalam QS Fussilat [41] ayat 33:"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan?"
"Untuk menjaga kemurnian hati dan keharmonisan sosial, Islam secara tegas melarang perbuatan menghina, mencela, merendahkan orang lain, serta menyebarkan informasi tanpa didasari ilmu yang valid," kata Ustaz Robi dalam Kajian Hamalatul Hadits (Kahadis), Selasa (27/10/2026).
Sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Hujurat [49] ayat 11 dan QS Al-Isra’ [17] ayat 36. Perkataan yang buruk dan dusta juga dapat menjadi sebab kebinasaan, sehingga setiap mukmin diperintahkan untuk senantiasa bertakwa dan mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadīdan).