Fikih Turun ke Jalan: Pesan Ketua PCNU Tangsel di Bahtsul Masail Hari Santri 2026
Tim langit 7
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:25 WIB
PCNU Tangerang Selatan mengangkat isu sisa makanan dan pengelolaan sampah dalam forum Bahtsul Masail Hari Santri 2026.
LANGIT7.ID-Tangerang;Di tengah peringatan Hari Santri Nasional 2026, PCNU Kota Tangerang Selatan tidak sekadar merayakan warisan kitab kuning. Melalui Bahtsul Masail yang digelar di Pondok Pesantren Omah Singgah, Pondok Aren, Sabtu (31/10/2026), para kiai dan santri justru "membedah" dua persoalan yang sangat membumi: sisa makanan dan sampah .
Ketua PCNU Tangsel, KH Abdullah Mas'ud, menegaskan bahwa tradisi Bahtsul Masail tidak boleh berhenti sebagai forum debat dalil yang menghasilkan kesimpulan di atas kertas. Menurutnya, santri hari ini dituntut bukan hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca zaman—termasuk persoalan perkotaan yang kerap dianggap sepele namun berdampak luas .
"Persoalan sisa makanan bukan sekadar urusan konsumsi, tetapi juga menyangkut pemborosan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap sumber daya. Demikian pula sampah, bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi berkaitan dengan kesehatan, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan," tegasnya .
Dua isu yang diangkat dalam forum ini—Masail Waqi'iyah tentang dilema sisa makanan dan Masail Qanuniyah tentang problematika peraturan daerah soal pengelolaan sampah—menjadi bukti bahwa fikih memiliki ruang luas untuk menjawab persoalan nyata. Abdullah berharap hasil Bahtsul Masail tidak berhenti di meja musyawarah, melainkan diterjemahkan menjadi panduan perilaku, gerakan sosial, dan rekomendasi kebijakan yang bisa dimanfaatkan masyarakat maupun pemerintah daerah .
Pesan ini sejalan dengan dorongan agar LBMNU PCNU Tangsel mengambil peran lebih besar sebagai pusat kajian strategis keagamaan dan sosial. Dengan tradisi keilmuan yang dimiliki, pesantren dinilai punya modal untuk ikut merumuskan solusi atas persoalan lingkungan, kesehatan, pendidikan, hingga problem sosial perkotaan .
Pada akhirnya, Bahtsul Masail Hari Santri 2026 di Tangsel bukan sekadar mengenang Resolusi Jihad 1945, melainkan melanjutkannya dalam bentuk yang berbeda: jihad melawan pemborosan, melawan sampah yang tak terkelola, dan melawan ketidakpedulian terhadap sesama dan lingkungan.(*/saf/nu)
Ketua PCNU Tangsel, KH Abdullah Mas'ud, menegaskan bahwa tradisi Bahtsul Masail tidak boleh berhenti sebagai forum debat dalil yang menghasilkan kesimpulan di atas kertas. Menurutnya, santri hari ini dituntut bukan hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca zaman—termasuk persoalan perkotaan yang kerap dianggap sepele namun berdampak luas .
"Persoalan sisa makanan bukan sekadar urusan konsumsi, tetapi juga menyangkut pemborosan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap sumber daya. Demikian pula sampah, bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi berkaitan dengan kesehatan, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan," tegasnya .
Dua isu yang diangkat dalam forum ini—Masail Waqi'iyah tentang dilema sisa makanan dan Masail Qanuniyah tentang problematika peraturan daerah soal pengelolaan sampah—menjadi bukti bahwa fikih memiliki ruang luas untuk menjawab persoalan nyata. Abdullah berharap hasil Bahtsul Masail tidak berhenti di meja musyawarah, melainkan diterjemahkan menjadi panduan perilaku, gerakan sosial, dan rekomendasi kebijakan yang bisa dimanfaatkan masyarakat maupun pemerintah daerah .
Pesan ini sejalan dengan dorongan agar LBMNU PCNU Tangsel mengambil peran lebih besar sebagai pusat kajian strategis keagamaan dan sosial. Dengan tradisi keilmuan yang dimiliki, pesantren dinilai punya modal untuk ikut merumuskan solusi atas persoalan lingkungan, kesehatan, pendidikan, hingga problem sosial perkotaan .
Pada akhirnya, Bahtsul Masail Hari Santri 2026 di Tangsel bukan sekadar mengenang Resolusi Jihad 1945, melainkan melanjutkannya dalam bentuk yang berbeda: jihad melawan pemborosan, melawan sampah yang tak terkelola, dan melawan ketidakpedulian terhadap sesama dan lingkungan.(*/saf/nu)
(lam)