PLN Jalin Kerja Sama Strategis dengan Australia, Perkuat Sistem Ketenagalistrikan
PT PLN (Persero) memperkuat kemitraan strategis dengan Pemerintah Australia melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), Kamis (29/10). Kerja sama ini mencakup transisi energi, pengembangan sumber daya manusia, teknologi, serta pembiayaan dan investasi untuk mendukung target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia pada 2060. Wakil Direktur Utama PLN, Yusuf Didi Setiarto, mengatakan kemitraan tersebut membuka peluang bagi PLN untuk memperoleh pengetahuan, teknologi, dan dukungan pembiayaan guna mempercepat transformasi perusahaan dari penyedia listrik menjadi penyedia solusi energi.
“Dukungan Pemerintah Australia memiliki arti penting bagi PLN, baik dalam pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan dan teknologi, maupun penjajakan peluang pembiayaan. Kami berharap kemitraan ini terus berkembang untuk memperkuat kapabilitas PLN dalam menjawab tantangan transisi energi dan menyiapkan pemimpin masa depan di sektor ketenagalistrikan,” ujar Didi.
Sebagai tindak lanjut MoU, PLN dan Pemerintah Australia menyiapkan sejumlah program kolaborasi. Cakupannya meliputi penguatan infrastruktur ketenagalistrikan dan pembiayaan strategis, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas dalam menghadapi risiko perubahan iklim, serta pengembangan sumber daya manusia. Dalam bidang infrastruktur, kedua pihak menjajaki dukungan pembiayaan dari Export Finance Australia (EFA) untuk proyek Eastern Java & Bali Grid Strengthening. Proyek ini ditujukan untuk meningkatkan keandalan jaringan dan pasokan listrik di Jawa Timur serta Bali melalui pembangunan dan peningkatan infrastruktur transmisi, gardu induk, dan jaringan distribusi. Kerja sama teknis juga membuka peluang pengembangan teknologi untuk meningkatkan fleksibilitas sistem ketenagalistrikan.
PLN menjajaki kolaborasi dengan sejumlah lembaga riset dan instansi pemerintah Australia, antara lain Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) serta Department of Climate, Environment and Water. Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan fleksibilitas jaringan, Battery Energy Storage System (BESS), dan fleksibilitas operasi pembangkit. Ketiga aspek ini dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam mengintegrasikan pasokan listrik dari pembangkit energi baru terbarukan (EBT), yang produksinya bergantung pada kondisi alam.
PLN juga memperkuat kesiapan sistem ketenagalistrikan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Bersama Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, PLN menjalankan program Capacity Building Skenario Iklim dan Ketahanan Sistem. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan berdasarkan skenario iklim atau climate-informed decision-making. Di bidang pengembangan sumber daya manusia, PLN bersama Pemerintah Australia melalui program Australia-Indonesia Climate and Sustainable Infrastructure Partnership (KINETIK) menyusun Three-Year Human Capital Development Roadmap untuk periode 2027–2030.
Peta jalan tersebut diselaraskan dengan target NZE, prioritas Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), serta prinsip transisi energi berkeadilan atau Just Energy Transition. “Penguatan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi dan kualitas SDM. Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional, kami ingin menyiapkan talenta PLN yang mampu mengelola sistem ketenagalistrikan masa depan sekaligus menghadirkan solusi energi yang menjawab kebutuhan masyarakat,” imbuh Didi. Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, menyambut positif penguatan kemitraan kedua negara.
Ia menilai PLN merupakan mitra penting dalam transisi energi Indonesia, khususnya untuk mendukung elektrifikasi dan pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan. “Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan transisi energi Indonesia dan memahami bahwa PLN akan memainkan peran sentral dalam elektrifikasi tersebut. Kemitraan ini juga bersifat timbal balik. Kami belajar banyak dari PLN dalam memahami lingkungan dan kebutuhan Indonesia, yang semakin memperkaya hubungan kedua negara,” ungkap Brazier.