home edukasi & pesantren

Mengenal Ciri Khas Ulama-Ulama Betawi dalam Mempelajari Islam

Jum'at, 16 Juli 2021 - 23:35 WIB
Para penjaga palang pintu, sebuah profesi yang jago dalam berpantun dan silat khas Betawi. Foto: Langit7.id/iStock
Ulama Betawi mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran, peletakan dasar-dasar, dan pembentukan budaya Islam di Betawi pada abad ke-19. Mereka aktif mengajar nilai-nilai Islam kepada masyarakat di Betawi, suku asli yang tinggal di Jakarta, maupun pendatang.

Selain itu, di Jakarta banyak masjid dan musollah dibangun di atas tanah wakaf. Sejak dulu orang Betawi suka mewakafkan tanah untuk kepentingan umat Islam. Mereka yakin masjid memiliki peranan penting dalam pendidikan Islam. Ini bisa dimaknai bahwa orang Betawi berperan besar dalam pembangunan karakter khususnya di bidang keagamaan, baik di Jakarta maupun di lingkup nasional.

Direktur Pondok Pesantren at-Taqwa Depok, Dr Muhammad Ardiansyah, tidak menampik bahwa ulama Betawi memiliki ciri khas tersendiri. Pria kelahiran Mei 1983 itu merupakan salah satu orang yang merasakan budaya belajar agama Islam di Tanah Betawi. Meski tak pernah mondok, ia pernah berkeliling dan berkunjung ke ulama-ulama ternama Betawi untuk menimba ilmu.

Pria kelahiran Jakarta itu pernah berguru Ustadz Mas'ud (alm), Ustadz Mujtaba (alm), Ust Agus Firdaus, KH Ahmad Musthofa ibn KH Abdurrahman Tua, KH Abdillah (alm), KH Jamaluddin Abdullah, hingga kepada Guru Ulama se-Jakarta yang akrab disapai Muallim, KH Muhammad Syafi’I Hadzami, dan masih banyak lagi. Ia duduk di depan ulama-ulama tersebut mengkaji kitab-kitab islami dalam bidang ilmu fikih, akidah, tafsir, dan lain sebagainya.

Tradisi semacam ini sudah melekat pada orang Betawi. Para ulama biasa dipanggil dengan sebuta Guru. “Maka kita kenal ada Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Majid Pekojan, Guru Marzuki Muara, dan Guru-guru lainnya. Hanya memang, panggilan itu belakangan kurang terdengar lagi. Kebanyakan orang langsung menyebut Kyai saja,” ucap beliau kepada LANGIT7.ID, Jakarta, Kamis (15/7/2021).

Dr Ardiansyah membenarkan bahwa Betawi sangat identik dengan Islam. Kalau dalam lagu Si Doel Anak Sekolahan, anak Betawi itu kerjaannye, sembahyang mengaji. “Nah, kalau anak mudanya saja begitu, apalagi Kyainya, Guru-gurunya?” ucapnya.

Tradisi menuntut ilmu di Betawi memang sedikit berbeda tradisi belajar di pulau Jawa pada umumnya. Kalau di Jawa, tradisi menuntut ilmu yang mendalam biasanya di pesantren. Berbeda dengan Betawi, belajar agama di rumah-rumah Guru. Persis dengan yang dilakukan Dr Ardiansyah, yang bahkan sampai saat ini masih ikut ngaji kepada KH Ahmad Marwazi, murid dari Syekh Yaasin al-Fadani, Ahli Hadits besar keturunan Padang yang tinggal dan wafat di Mekkah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
kurikulum pesantren pondok pesantren islam ulama betawi ulama
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya