19 Tahun YBM BRI, Berawal dari Kebijakan Direksi terhadap Zakat Karyawan
Fajar adhitya
Rabu, 10 November 2021 - 20:13 WIB
Ilustrasi zakat. Foto: Langit7.id/ iStock
Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM BRI) adalah Lembaga Amil Zakat (LAZ) nasional yang menghimpun dan mengelola dana zakat masyarakat di seluruh Indonesia. Gagasan mendirikan LAZ dicetuskan oleh almarhum Rudjito yang menjabat sebagai Direktur Utama BRI tahun 2000 sampai 2005.
YBM BRI menjalankan kirpahnya sebagai lembaga amil zakat sejak 2002. Sampai saat ini, YBM BRI terus berupaya menjadi LAZ profesional yang menghubungkan orang-orang dalam meningkatkan kualitas hidup para dhuafa lewat pengelolaan zakat.
Awal mulanya, Rudjito menginginkan adanya penarikan zakat profesi dari seluruh karyawan BRI. Ia memandang, zakat karyawan sangat penting dikeluarkan sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah mengizinkan BRI terus tumbuh dan berkembang.
Baca Juga:20 Pelaku UMKM di Demak Terima Zakat Bergulir dari Lazisma Jateng
Rudjito lalu meminta agar penghimpunan dan pengelolaan zakat profesi para karyawan BRI dilakukan oleh Badan Pengelola Zakat Infaq Shadaqah (Bapekis) yang saat itu diketuai Ahmad Suparli. Seluruh karyawan BRI diwajibkan menyalurkan zakat sebesar 2,5 persen yang langsung dipotong dari gaji.
“Awalnya kita buat pemungutan dana zakat yang langsung dipotong dari upah kerja. Waktu itu kami berikan kesempatan pekerja memungut zakat 1,5 persen dari 2,5 persen,” kata Suparli yang kini bekerja pada Corporate Secretary Division Bagian Pelayanan Direksi dan SEVP BRI, kepada Langit7.id,Rabu (10/11/2021).
YBM BRI juga sempat studi banding ke Baitulmal Ummat Islam Bank Negara Indonesia (Bamuis BNI) yang lebih dulu menerapkan penghimpunan dan pengelolaan zakat karyawan. Bapekis juga bekerja sama dengan Baznas agar pengelolaan zakat berjalan maksimal.
YBM BRI menjalankan kirpahnya sebagai lembaga amil zakat sejak 2002. Sampai saat ini, YBM BRI terus berupaya menjadi LAZ profesional yang menghubungkan orang-orang dalam meningkatkan kualitas hidup para dhuafa lewat pengelolaan zakat.
Awal mulanya, Rudjito menginginkan adanya penarikan zakat profesi dari seluruh karyawan BRI. Ia memandang, zakat karyawan sangat penting dikeluarkan sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah mengizinkan BRI terus tumbuh dan berkembang.
Baca Juga:20 Pelaku UMKM di Demak Terima Zakat Bergulir dari Lazisma Jateng
Rudjito lalu meminta agar penghimpunan dan pengelolaan zakat profesi para karyawan BRI dilakukan oleh Badan Pengelola Zakat Infaq Shadaqah (Bapekis) yang saat itu diketuai Ahmad Suparli. Seluruh karyawan BRI diwajibkan menyalurkan zakat sebesar 2,5 persen yang langsung dipotong dari gaji.
“Awalnya kita buat pemungutan dana zakat yang langsung dipotong dari upah kerja. Waktu itu kami berikan kesempatan pekerja memungut zakat 1,5 persen dari 2,5 persen,” kata Suparli yang kini bekerja pada Corporate Secretary Division Bagian Pelayanan Direksi dan SEVP BRI, kepada Langit7.id,Rabu (10/11/2021).
YBM BRI juga sempat studi banding ke Baitulmal Ummat Islam Bank Negara Indonesia (Bamuis BNI) yang lebih dulu menerapkan penghimpunan dan pengelolaan zakat karyawan. Bapekis juga bekerja sama dengan Baznas agar pengelolaan zakat berjalan maksimal.