PLN Akselerasi Transisi EBT dengan Tiga Strategi
Mahmuda attar hussein
Senin, 15 November 2021 - 07:30 WIB
Pusat listrik tenaga air, Saguling. Foto: Humas PLN
Indonesia memiliki banyak potensi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), mulai dari panas bumi, tenaga air, bioenergi, surya dan angin. Melimpahnya sumber energi bersih ini tentunya menjadi modal PT PLN (Persero) dalam memenuhi target Indonesia net zero emission 2060.
Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan, faktor perubahan iklim diproyeksikan akan berdampak pada peningkatan potensi bencana. Seperti cuaca ekstrem, banjir, kekeringan parah, kenaikan temperatur, kenaikan permukaan air laut, serta potensi kesulitan tumbuhnya tanaman pangan.
Baca juga: Kemensos Bangun 10 Peternakan Ayam di Asmat
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Agung Murdifi menyampaikan, berkaca pada laporan tersebut, dengan kebijakan business as usual (BaU) sekarang ini, kenaikan suhu akan mencapai 3,1 derajat Celcius pada 2030. Sedangkan jika semua pihak konsisten untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, maka kenaika suhu tersebut dapat teredam pada level 1,5 derajat Celcius atau bahkan lebih rendah.
"Mau atau tidak, kita harus melakukan akselerasi dalam transisi dari PLTU Batubara ke energi yang ramah lingkungan seperti surya, angin, air, panas bumi, dan jenis energi baru terbarukan yang lain," kata Agung.
PLN pun telah memiliki strategi transisi energi dalam tiga tahap. Pertama, pengembangan pembangkit PLN harus selalu mempertimbangkan keselarasan supply and demand, potensi ketersediaan sumber energi setempat, keekonomian, keandalan, serta ketahanan energi nasional dan sustainability.
"Kita harus tetap menjaga keselarasan supply and demand. Jangan sampai kita kelebihan supply yang nanti secara bisnis akan merugikan atau tidak baik," kata Agung.
Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan, faktor perubahan iklim diproyeksikan akan berdampak pada peningkatan potensi bencana. Seperti cuaca ekstrem, banjir, kekeringan parah, kenaikan temperatur, kenaikan permukaan air laut, serta potensi kesulitan tumbuhnya tanaman pangan.
Baca juga: Kemensos Bangun 10 Peternakan Ayam di Asmat
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Agung Murdifi menyampaikan, berkaca pada laporan tersebut, dengan kebijakan business as usual (BaU) sekarang ini, kenaikan suhu akan mencapai 3,1 derajat Celcius pada 2030. Sedangkan jika semua pihak konsisten untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, maka kenaika suhu tersebut dapat teredam pada level 1,5 derajat Celcius atau bahkan lebih rendah.
"Mau atau tidak, kita harus melakukan akselerasi dalam transisi dari PLTU Batubara ke energi yang ramah lingkungan seperti surya, angin, air, panas bumi, dan jenis energi baru terbarukan yang lain," kata Agung.
PLN pun telah memiliki strategi transisi energi dalam tiga tahap. Pertama, pengembangan pembangkit PLN harus selalu mempertimbangkan keselarasan supply and demand, potensi ketersediaan sumber energi setempat, keekonomian, keandalan, serta ketahanan energi nasional dan sustainability.
"Kita harus tetap menjaga keselarasan supply and demand. Jangan sampai kita kelebihan supply yang nanti secara bisnis akan merugikan atau tidak baik," kata Agung.