Mengenal Macam-macam Santri, dari Mukim sampai Kalong
Muhajirin
Kamis, 18 November 2021 - 13:20 WIB
ilustrasi santri (foto: langit7.id/istock)
Santri adalah sebutan untuk siswa dan siswi di Pondok Pesantren. Kebanyakan santri dikenal bermukim di Pondok Pesantren. Namun ternyata berdasarkan domisilinya, ada beberapa jenis santri. Mengutip dari santrijagad.com, berikut tiga jenis santri yang ada di pesantren:
1. Santri Mukim
Santri mukim ini paling umum ditemui di setiap pondok pesantren. Mereka adalah santri yang tinggal dan menetap di lingkungan pesantren. Mereka bermukim di pondok, ikut kurikulum belajar pondok, dan mengaji di pondok. Santri jenis ini kebanyakan berasal dari luar kota.
Jadi aspek sejarah, santri mukim merupakan cikal bakal pendirian suatu pesantren. Sebelum ada bangunan pondok, para ulama terdahulu mengajar pengajian di masjid, mushalla, atau rumah. Lalu datang santri dari luar kota untuk belajar.
Mereka tidak bisa bolak-balik. Sehingga mereka membangun sebuah pondokan atau kamar berwujud gubuk di dekat rumah kiai. Sejak saat itu ia pun resmi menjadi santri mukim. Semakin banyak santri, kian banyak pula pondok-pondok kecil yang dibangun untuk bernaung. Lambat laun, bangunan-bangunan itu berkembang menjadi banguanan pesantren.
Santri mukim mengikuti jenjang, program, jadwal, dan struktur belajar di dalam pondok. Mulai dari belajar baca kitab, menghafal kitab-kitab matan, serta mengupas kitab-kitab dasar.
2. Santri Kalong
1. Santri Mukim
Santri mukim ini paling umum ditemui di setiap pondok pesantren. Mereka adalah santri yang tinggal dan menetap di lingkungan pesantren. Mereka bermukim di pondok, ikut kurikulum belajar pondok, dan mengaji di pondok. Santri jenis ini kebanyakan berasal dari luar kota.
Jadi aspek sejarah, santri mukim merupakan cikal bakal pendirian suatu pesantren. Sebelum ada bangunan pondok, para ulama terdahulu mengajar pengajian di masjid, mushalla, atau rumah. Lalu datang santri dari luar kota untuk belajar.
Mereka tidak bisa bolak-balik. Sehingga mereka membangun sebuah pondokan atau kamar berwujud gubuk di dekat rumah kiai. Sejak saat itu ia pun resmi menjadi santri mukim. Semakin banyak santri, kian banyak pula pondok-pondok kecil yang dibangun untuk bernaung. Lambat laun, bangunan-bangunan itu berkembang menjadi banguanan pesantren.
Santri mukim mengikuti jenjang, program, jadwal, dan struktur belajar di dalam pondok. Mulai dari belajar baca kitab, menghafal kitab-kitab matan, serta mengupas kitab-kitab dasar.
2. Santri Kalong