DMI dan Para Pengasuh Pesantren Kunjungi Al-Azhar Mesir, Bahas Kesetaraan Ijazah Pesantren
Muhajirin
Senin, 29 November 2021 - 20:49 WIB
Rombongan DMI dan Para Pimpinan Pesantren dari Indonesia bersama pimpinan Universitas Allah Azhar, Mesir (foto: Instagram/Pondoktazakka)
Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Komjen Pol (p) Dr. H. Syafruddin, memimpin Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) berkunjung ke Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah (Pusat Riset Keislaman Al-Azhar), Mesir pada Ahad (28/11/2021). Rombongan DMI diterima langsung Sekjen lembaga tersebut, Syekh Prof Dr Nadzir Ayyadh.
Dalam kunjungan tersebut, Syafruddin didampingi pimpinan Pondok Modern Gontor Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, Pengasuh Pondok Pesantren Tremas KH Luqman Haris Dimyati, dan Ustadz Dasad Latif.
Dalam pertemuan itu, DMI mengajukan muadalah (penyetaraan) ijazah pesantren yang tergabung dalam FKPM dengan Al-Azhar. Muadalah pondok pesantren tidak hanya berlaku untuk Indonesia, tetapi berlaku seluruh dunia untuk mengukur kemampuan para santri melanjutkan pendidikan di Al-Azhar.
“Kita berharap santri mendapat lebih banyak kesempatan untuk belajar di Al-Azhar. Kelak, para santri yang menjadi alumni Al-Azhar dalam menyebarkan ajaran islam yang wasathiyah di Indonesia, sehingga kiprah alumni Al-Azhar dirasakan oleh rakyat Indonesia,” kata Syafruddin melalui keterangan tertulis, Senin (29/11/2021).
Saat ini, ada sekitar 40-an pesantren dari unsur salafiyah maupun ashriyah yang mengajukan muadalah. Di antaranya Tremasn, Manonjaya, Al-Ikhlas Taliwang, Baitul Hidayah Bandung, Al-Mizan Banten, Darul Azhar Banten, Mawaridussalam Medan, Al-Amien Madura, Al-Amanah Al-Gontory Tangerang, Darul Qur’an Tangerang, hingga Al-Ishlah Bondowoso.
Sudah ada sembilan pesantren yang telah mendapatkan muadalah terlebih dahulu. Di antaranya Darussalam Gontor, Darunnajah Jakarta, Tazakka Batang, Al-Ikhlas Kuningan, Amanatul Ummah Mojokerto, dan Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Al-Azhar menjadi salah satu tujuan pendidikan kader-kader umat sejak zaman dahulu hingga sekarang. Kontribusi Al-Azhar bagi umat Islam dunia, khususnya di Indonesia sudah tak diragukan lagi.
Dalam kunjungan tersebut, Syafruddin didampingi pimpinan Pondok Modern Gontor Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, Pengasuh Pondok Pesantren Tremas KH Luqman Haris Dimyati, dan Ustadz Dasad Latif.
Dalam pertemuan itu, DMI mengajukan muadalah (penyetaraan) ijazah pesantren yang tergabung dalam FKPM dengan Al-Azhar. Muadalah pondok pesantren tidak hanya berlaku untuk Indonesia, tetapi berlaku seluruh dunia untuk mengukur kemampuan para santri melanjutkan pendidikan di Al-Azhar.
“Kita berharap santri mendapat lebih banyak kesempatan untuk belajar di Al-Azhar. Kelak, para santri yang menjadi alumni Al-Azhar dalam menyebarkan ajaran islam yang wasathiyah di Indonesia, sehingga kiprah alumni Al-Azhar dirasakan oleh rakyat Indonesia,” kata Syafruddin melalui keterangan tertulis, Senin (29/11/2021).
Saat ini, ada sekitar 40-an pesantren dari unsur salafiyah maupun ashriyah yang mengajukan muadalah. Di antaranya Tremasn, Manonjaya, Al-Ikhlas Taliwang, Baitul Hidayah Bandung, Al-Mizan Banten, Darul Azhar Banten, Mawaridussalam Medan, Al-Amien Madura, Al-Amanah Al-Gontory Tangerang, Darul Qur’an Tangerang, hingga Al-Ishlah Bondowoso.
Sudah ada sembilan pesantren yang telah mendapatkan muadalah terlebih dahulu. Di antaranya Darussalam Gontor, Darunnajah Jakarta, Tazakka Batang, Al-Ikhlas Kuningan, Amanatul Ummah Mojokerto, dan Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Al-Azhar menjadi salah satu tujuan pendidikan kader-kader umat sejak zaman dahulu hingga sekarang. Kontribusi Al-Azhar bagi umat Islam dunia, khususnya di Indonesia sudah tak diragukan lagi.