Kisah RA Kartini Nyantri ke KH Sholeh Darat
Arif purniawan
Ahad, 05 Desember 2021 - 16:05 WIB
RA Kartini. Foto: istimewa
Raden Ajeng (RA) Kartini, pahlawan nasional asal Jepara, diketahui pernah menjadi santri beberapa tahun sebelum menikah. Selama ini Kartini dikenal sososk perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender, sekaligus mengantarkannya menjadi seorang pahlawan lewat kumpulan surat-surat yang dibukukan berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang “.
RA Kartini merupakan putri Bupati Jepara Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya M.A Ngasirah, anak dari seorang guru agama di Telukawur Jepara. Ia lahir dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa. Disebut di wikipedia, sampai usia 12 tahun, ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), yakni sekolah dasar zaman kolonial Belanda. Proses pembelajarannya menggunakan bahasa Belanda.
Setelah 12 tahun Kartini dipingit oleh keluarganya. Kartini memiliki banyak teman dari Eropa dan sering berkomunikasi dengan surat. Ia tertarik dari kemajuan berpikir perempuan di Eropa, yang memantiknya untuk memperjuangkan perempuan pribumi yang dianggapnya berada pada status sosial yang rendah.
Baca juga: Aeshnina, Muslimah Cilik Greta Thunberg-nya Indonesia Protes Pencemaran Lingkungan di Forum Dunia
Kartini banyak membaca koran De Locomotief yang dulu berkantor di areal Kota Lama Semarang. Ia juga rajin membaca majalah perempuan Belanda De Holandsche Lelle. Sebelum berumur 20 tahun, ia telah membaca buku Max Havelaar dan Surat-surat Cinta karya Multatuli.
Kartini berjuang agar perempuan diberi kebebasan, otonomi dan mendapat persamaan dalam hukum sebagai bagian dari pergerakan. Statusnya sebagai seorang bangsawan, tidak menghalangi daya kritis berpikirnya melihat realitas perempuan pribumi saat itu.
Selain pemikirannya yang kritis terhadap sosial, Kartini merasa tetap butuh pencerahan agama. Apalagi keluarga Kartini dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang tekun dalam beragama dan dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan.
RA Kartini merupakan putri Bupati Jepara Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya M.A Ngasirah, anak dari seorang guru agama di Telukawur Jepara. Ia lahir dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa. Disebut di wikipedia, sampai usia 12 tahun, ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), yakni sekolah dasar zaman kolonial Belanda. Proses pembelajarannya menggunakan bahasa Belanda.
Setelah 12 tahun Kartini dipingit oleh keluarganya. Kartini memiliki banyak teman dari Eropa dan sering berkomunikasi dengan surat. Ia tertarik dari kemajuan berpikir perempuan di Eropa, yang memantiknya untuk memperjuangkan perempuan pribumi yang dianggapnya berada pada status sosial yang rendah.
Baca juga: Aeshnina, Muslimah Cilik Greta Thunberg-nya Indonesia Protes Pencemaran Lingkungan di Forum Dunia
Kartini banyak membaca koran De Locomotief yang dulu berkantor di areal Kota Lama Semarang. Ia juga rajin membaca majalah perempuan Belanda De Holandsche Lelle. Sebelum berumur 20 tahun, ia telah membaca buku Max Havelaar dan Surat-surat Cinta karya Multatuli.
Kartini berjuang agar perempuan diberi kebebasan, otonomi dan mendapat persamaan dalam hukum sebagai bagian dari pergerakan. Statusnya sebagai seorang bangsawan, tidak menghalangi daya kritis berpikirnya melihat realitas perempuan pribumi saat itu.
Selain pemikirannya yang kritis terhadap sosial, Kartini merasa tetap butuh pencerahan agama. Apalagi keluarga Kartini dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang tekun dalam beragama dan dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan.