Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home sosok muslim detail berita

Kisah RA Kartini Nyantri ke KH Sholeh Darat

arif purniawan Ahad, 05 Desember 2021 - 16:05 WIB
Kisah RA Kartini Nyantri ke KH Sholeh Darat
RA Kartini. Foto: istimewa
Langit7, Semarang - Raden Ajeng (RA) Kartini, pahlawan nasional asal Jepara, diketahui pernah menjadi santri beberapa tahun sebelum menikah. Selama ini Kartini dikenal sososk perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender, sekaligus mengantarkannya menjadi seorang pahlawan lewat kumpulan surat-surat yang dibukukan berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang “.

RA Kartini merupakan putri Bupati Jepara Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya M.A Ngasirah, anak dari seorang guru agama di Telukawur Jepara. Ia lahir dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa. Disebut di wikipedia, sampai usia 12 tahun, ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), yakni sekolah dasar zaman kolonial Belanda. Proses pembelajarannya menggunakan bahasa Belanda.

Setelah 12 tahun Kartini dipingit oleh keluarganya. Kartini memiliki banyak teman dari Eropa dan sering berkomunikasi dengan surat. Ia tertarik dari kemajuan berpikir perempuan di Eropa, yang memantiknya untuk memperjuangkan perempuan pribumi yang dianggapnya berada pada status sosial yang rendah.

Baca juga: Aeshnina, Muslimah Cilik Greta Thunberg-nya Indonesia Protes Pencemaran Lingkungan di Forum Dunia

Kartini banyak membaca koran De Locomotief yang dulu berkantor di areal Kota Lama Semarang. Ia juga rajin membaca majalah perempuan Belanda De Holandsche Lelle. Sebelum berumur 20 tahun, ia telah membaca buku Max Havelaar dan Surat-surat Cinta karya Multatuli.

Kartini berjuang agar perempuan diberi kebebasan, otonomi dan mendapat persamaan dalam hukum sebagai bagian dari pergerakan. Statusnya sebagai seorang bangsawan, tidak menghalangi daya kritis berpikirnya melihat realitas perempuan pribumi saat itu.

Selain pemikirannya yang kritis terhadap sosial, Kartini merasa tetap butuh pencerahan agama. Apalagi keluarga Kartini dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang tekun dalam beragama dan dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan.

Ketika Kartini belajar Alquran, terasa hampa. Karena ia hanya belajar mengeja dan membaca. Isi kandungan Alquran tidak dapat diserap. Ia mengibaratkan bahwa belajar Alquran dengan model demikian akan menjadikan orang Islam tidak mengetahui mutiara hikmah Alquran. Ketika ia meminta guru ngajinya mengartikan Alquran justru Kartini dimarahi. Kartini mulai gelisah.

Baca juga: Gus Kikin: Ulama Tawadhu, Pengusaha dan Pemilik Stasiun Televisi

Ia berontak akan belum sempurnanya Islam yang dipeluknya meski menguasai bahasa Belanda, Perancis dan Inggris. Maka bahasa agamanya, Arab juga ingin ia pelajari. Namun Kartini tidak menemukan guru Bahasa Arab atau guru tafsir. Itulah Kartini, seorang perempuan muda yang tidak kenal belajar bermasyarakat dan beragama. Maka saat Kartini berumur 20 tahun, sudah mengungkapkan kegelisahan itu.

Radan Ajeng (RA) Kartini saat usianya menginjak 20 tahun pernah melayangkan surat kepada sahabatnya di Belanda, Stella EH Zeedandelaar pada 6 November 1899 berisi:

”Alquran terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu bahasa Arab. Di sini orang diajari membawa Alquran , tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila : mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya,” demikian isi surat tersebut .

Kemudian Kartini melanjutkan suratnya,”Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?.

Menurut Dosen UIN Walisongo Semarang M Rikza Chamami, ktitik RA Kartini terhadap pembelajaran agama di akhir abad 19 itu menjadi bukti bahwa ia sangat peduli terhadap kuatnya minat untuk belajar isi agama yang terkandung dalam Alquran.

“Saat itu belum ada tafsir Alquran yang sudah diterjemahkan dalam bahasa melayu atau Jawa. Wajar, jika Kartini menjadi penasaran, “ kata Rikza, dikutip dari NU Online.

Baca juga: Siapakah Sebenarnya Kapitan Pattimura? Ini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat hingga Mansur Suryanegara

Ketika usia Kartini sudah di atas 20 tahun, di rumahnya di Mayong, Jepara, orang tuanya mengundang guru ngaji, yang tak lain adalah KH Sholeh Darat. Mbah Sholeh Darat tinggal di Kedung Cumpleng, Kecamatan Pecangaan Jepara, tak jauh dari Kecamatan Mayong .

Menurut buyut Mbah Sholeh Darat, H.M Agus Taufik, beliau ngajar ngaji tidak pernah dijemput, tapi langsung datang ke padepokan abahnya di Mayong. Akan tetapi, saat itu Kartini karena perempuan tidak boleh ikut. Dia hanya mengintip dan ikut mendengarkan dari balik tembok.

“Kartini heran kok kiai berani betul mengajar ngaji dengan bahasa Jawa. Beliau baru dengar hal itu. Setelah itu Kartini bilang sama ayahnya, ingin ikut beliau (Mbah Sholeh Darat). Akhirnya diizinkan. Dengan syarat, karena gerak-gerik wanita darah biru dibatasi,” kata Agus Taufik kepada Langit7, baru-baru ini.

Saat beliau mengajar ngaji di Mayong, usianya sudah 80 tahun lebih. RA Kartini masih belum menikah, sekitar 20 tahun lebih. Di antara 3 saudara kandungnya, termasuk Sosrokartono, Kartini adalah santri yang paling cerdas. Pertanyaannya sangat kritis. Kartini mengutarakan sangat tertarik dan ingin ikut ngaji Alquran huruf pegon, atau huruf Jawa.

“Biasanya mendengar ngaji bahasa Arab. Tidak tahu artinya. Kartini jadi bisa tahu Alquran dan maknanya. Dari beberapa saudaranya, yang intens ngaji Kartini. Tidak hanya satu dua tahun. Awal Kartini ngaji di atas 20 tahun sampai menikah,” tuturnya.

Baca juga: Arief Rosyid, Dokter Gigi Pegiat Ekonomi Syariah yang Peduli Generasi Muda

Bukti Kartini pernah nyantri dengan Mbah Sholeh Darat ini awalnya ditemukan oleh Moesa Machfudz, dosen sejarah UGM berdasakan catatan pribadi murid Kyai Sholeh Darat yaitu KH Ma’shum Demak. Dan itu dimuat dalam Majalah Gema Yogyakarta Nomor 3 tahun 1978.

Sebagai bukti kecintaan guru kepada murid, Mbah Sholeh Darat memberikan hadiah perkawinan RA Kartini yakni tafsir Faidlur Rahman. Jilid satunya (503 halaman) dari kandungan surat Al Fatihah sampai Al Baqoarah yang ditulis pada (20 Rajab 1309 H/19 Februari 1892 sampai 19 Jumadil Ula 1310 H/7 November 1893. Kartini diberi sampai tiga jilid.

“Baru beberapa lembar digarap jilid keempat, Mbah Sholeh Darat kemudian meninggal dunia,” ujarnya lagi.

RA Kartini dijodohkan dan menikah dengan Bupati Rembang KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 12 November 1903. Kartini wafat pada 13 September 1904, beberapa hari setelah melahirkan anak pertama dan terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, karena sakit.

“Ketika Kartini sedang hamil, sebelum melahirkan sempat ziarah ke Bergota Semarang,” pungkas Agus, yang juga guru di SMP Nudia Semarang.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)