Berkah Tanpa Riba, Berlimpah Proyek Tanpa Rasuah
Muhajirin
Jum'at, 25 Juni 2021 - 19:03 WIB
Salah satu aktivitas Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) sekaligus pengusaha asal Merauke Umar, saat menjelaskan tentang kisahnya yang sukses berusaha tanpa riba. (foto: youtube/@masyarakattanpariba)
Kesadaran masyarakat menghindari transaksi yang berhubungan dengan riba semakin meningkat. Kesadaran itu turut melahirkan komunitas-komunitas yang anti terhadap praktik riba, salah satuya komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Komunitas tersebut mengedukasi masyarakat untuk menghentikan kebiasaan berutang dan bersama-sama menggerakkan sektor real sebagai bentuk bela negara.
Dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 276, Allah berfirman, “Allah memusnakan riba dan menyuburkan sedekah.” Ayat tersebut menjadi salah satu dasar MTR dalam menjalankan roda komunitas. Setiap anggota saling mengingatkan, baik dalam majelis ilmu maupun secara personal antaranggota.
Ayat itu pula yang mengilhami Umar, pengusaha asal Marauke, Papua, yang menjadi salah satu aktivis antiriba bersama MTR. Dia menerjemahkan ayat tersebut dalam lingkup kehidupan keluarganya. Efek dari praktik riba yang kerap ia lakukan membuatnya diuji dengan penyakit. Istrinya divonis menderita kanker tulang. Berbagai usaha telah dilakuan demi kesungguhan istri tercinta. Mulai dari upaya medis, berburu obat herbal hingga ke pelosok daerah, mendatangi dan meminta doa dari para ustaz. Namun sang istri tak kunjung sembuh.
Usaha yang telah dia lakukan itu membuatnya yakin bahwa penyakit kanker sang istri merupakan efek buruk dari riba. Ia mengaku menerapkan praktik riba dalam menjalankan bisnis. “Saya sadari, ini mungkin risiko riba,” ujar Umar, dilansir dari laman resmi masyarakattanpariba.
Dia bergabung dengan MTR pada 2019 lalu. Dia menceritakan, bagi para pengusaha, utang dan riba sudah menjadi hal yang wajar dalam praktik bisnis. Hampir semua pengusaha memiliki utang, apalagi di lingkungan pengusaha kontraktor seperti dirinya. Dia mengaku sempat terjebak pada presepsi bahwa utang adalah salah satu faktor prestise dalam gaya hidup pengusaha.
“Kalau nggak punya utang artinya nggak dipercaya bank. Maka kalau ketemu di antara mereka, yang terjadi adalah saling membanggakan besarnya utang,” ucap Umar.
Namun rupanya, kata dia, gengsi semu itu membawa risiko besar. Dia menyadari bahwa riba membawa risiko besar saat mengikuti salah satu majelis ilmu yang diadakan oleh MTR. Riba tak hanya berdampak buruk saat di dunia, namun sampai ke akhirat.
Dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 276, Allah berfirman, “Allah memusnakan riba dan menyuburkan sedekah.” Ayat tersebut menjadi salah satu dasar MTR dalam menjalankan roda komunitas. Setiap anggota saling mengingatkan, baik dalam majelis ilmu maupun secara personal antaranggota.
Ayat itu pula yang mengilhami Umar, pengusaha asal Marauke, Papua, yang menjadi salah satu aktivis antiriba bersama MTR. Dia menerjemahkan ayat tersebut dalam lingkup kehidupan keluarganya. Efek dari praktik riba yang kerap ia lakukan membuatnya diuji dengan penyakit. Istrinya divonis menderita kanker tulang. Berbagai usaha telah dilakuan demi kesungguhan istri tercinta. Mulai dari upaya medis, berburu obat herbal hingga ke pelosok daerah, mendatangi dan meminta doa dari para ustaz. Namun sang istri tak kunjung sembuh.
Usaha yang telah dia lakukan itu membuatnya yakin bahwa penyakit kanker sang istri merupakan efek buruk dari riba. Ia mengaku menerapkan praktik riba dalam menjalankan bisnis. “Saya sadari, ini mungkin risiko riba,” ujar Umar, dilansir dari laman resmi masyarakattanpariba.
Dia bergabung dengan MTR pada 2019 lalu. Dia menceritakan, bagi para pengusaha, utang dan riba sudah menjadi hal yang wajar dalam praktik bisnis. Hampir semua pengusaha memiliki utang, apalagi di lingkungan pengusaha kontraktor seperti dirinya. Dia mengaku sempat terjebak pada presepsi bahwa utang adalah salah satu faktor prestise dalam gaya hidup pengusaha.
“Kalau nggak punya utang artinya nggak dipercaya bank. Maka kalau ketemu di antara mereka, yang terjadi adalah saling membanggakan besarnya utang,” ucap Umar.
Namun rupanya, kata dia, gengsi semu itu membawa risiko besar. Dia menyadari bahwa riba membawa risiko besar saat mengikuti salah satu majelis ilmu yang diadakan oleh MTR. Riba tak hanya berdampak buruk saat di dunia, namun sampai ke akhirat.