Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home community detail berita

Berkah Tanpa Riba, Berlimpah Proyek Tanpa Rasuah

Muhajirin Jum'at, 25 Juni 2021 - 19:03 WIB
Berkah Tanpa Riba, Berlimpah Proyek Tanpa Rasuah
Salah satu aktivitas Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) sekaligus pengusaha asal Merauke Umar, saat menjelaskan tentang kisahnya yang sukses berusaha tanpa riba. (foto: youtube/@masyarakattanpariba)
LANGIT7.ID - Kesadaran masyarakat menghindari transaksi yang berhubungan dengan riba semakin meningkat. Kesadaran itu turut melahirkan komunitas-komunitas yang anti terhadap praktik riba, salah satuya komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Komunitas tersebut mengedukasi masyarakat untuk menghentikan kebiasaan berutang dan bersama-sama menggerakkan sektor real sebagai bentuk bela negara.

Dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 276, Allah berfirman, “Allah memusnakan riba dan menyuburkan sedekah.” Ayat tersebut menjadi salah satu dasar MTR dalam menjalankan roda komunitas. Setiap anggota saling mengingatkan, baik dalam majelis ilmu maupun secara personal antaranggota.

Ayat itu pula yang mengilhami Umar, pengusaha asal Marauke, Papua, yang menjadi salah satu aktivis antiriba bersama MTR. Dia menerjemahkan ayat tersebut dalam lingkup kehidupan keluarganya. Efek dari praktik riba yang kerap ia lakukan membuatnya diuji dengan penyakit. Istrinya divonis menderita kanker tulang. Berbagai usaha telah dilakuan demi kesungguhan istri tercinta. Mulai dari upaya medis, berburu obat herbal hingga ke pelosok daerah, mendatangi dan meminta doa dari para ustaz. Namun sang istri tak kunjung sembuh.

Usaha yang telah dia lakukan itu membuatnya yakin bahwa penyakit kanker sang istri merupakan efek buruk dari riba. Ia mengaku menerapkan praktik riba dalam menjalankan bisnis. “Saya sadari, ini mungkin risiko riba,” ujar Umar, dilansir dari laman resmi masyarakattanpariba.

Dia bergabung dengan MTR pada 2019 lalu. Dia menceritakan, bagi para pengusaha, utang dan riba sudah menjadi hal yang wajar dalam praktik bisnis. Hampir semua pengusaha memiliki utang, apalagi di lingkungan pengusaha kontraktor seperti dirinya. Dia mengaku sempat terjebak pada presepsi bahwa utang adalah salah satu faktor prestise dalam gaya hidup pengusaha.

“Kalau nggak punya utang artinya nggak dipercaya bank. Maka kalau ketemu di antara mereka, yang terjadi adalah saling membanggakan besarnya utang,” ucap Umar.

Namun rupanya, kata dia, gengsi semu itu membawa risiko besar. Dia menyadari bahwa riba membawa risiko besar saat mengikuti salah satu majelis ilmu yang diadakan oleh MTR. Riba tak hanya berdampak buruk saat di dunia, namun sampai ke akhirat.

Dia kemudian mencoba memahami Al-Baqarah ayat 276. Kanker tulang yang diderita istrinya adalah risiko duniawi yang mesti ditanggung di dunia. Dia menghubungkan bahwa cara-cara seperti itu merupakan skenario Allah ta’ala untuk menghancurkan riba dan menyuburkan sedekah.

Saat aktif mengikuti kajian di MTR, Umar pertama kali menyelesaikan semua utang. Dia bernegosiasi dengan pihak bank tempat dia mengambil utang. Negosiasi itu tak semudah negosiasi dengan tetangga, butuh 3 bulan untuk bank mengabulkan permohonannya. Dengan perubahan akad, bank memberi Pak Umar waktu satu tahun untuk mengembalikan sisa pokok utangnya saja dengan menyicil.

Berlimpah Proyek tanpa Rasuah

Pada 2020 lalu, saat terpental ke titik rendah dalam dunia bisnis, dia kerap mengikuti kajian MRT di Jakarta. Melalui kajian-kajian keilmuan seputar dunia bisnis berbasis syariah, dia merasa yakin untuk meninggalkan segala aktivitas yang berhubungan dengan riba dalam menjalankan bisnis.

Dia mengaku mendapatkan kemudahan saat menjalankan roda bisnis tanpa riba. Salah satunya dimampukan menjalankan proyek besar tanpa rasuah. Saat mendapat proyek pengadaan beras 250 ton beras pada tahun lalu, dia dipertemukan dengan pengusaha dengan satu visi, sehingga bisa menjalankan proyek itu tanpa riba.

Kemudahan lain, suatu ketika dia melakukan perjalanan ke Jakarta, tanpa diduga ia bertemu dengan Bupati Merauke, Romanus Mbaraka. Kesempatan itu tak disia-siakan. Ia menjelaskan proyek yang tengah yang emban. Tak disangka bupati menyatakan siap mendukung, karena dinilai bisa membantu pemberdayaan msyarakat Merauke.

“Allah memperlihatkan kemahakayaan-Nya bukan dengan cara memberi utang atau uang, tapi dipertemukan dengan teman-teman yang saling mendukung,” ujar Umar.

Dia mengaku mendapatkan banyak proyek setelah total meninggalkan riba. Ada beberapa proyek bigwin yang berhasil Umar dapatkan. Antara lain pembangunan Gudang Bulog di Bulukumba dan Merauke dengan berkapasitas 1.000 ton.

Padahal, sudah menjadi rahasia umum, kontraktor harus menyiapkan dana rasuah mendapatkan proyek sebesar itu. “Nyatanya, proyek-proyek itu bisa diperoleh tanpa cara-cara sebelumnya. Keberkahan ini kadang datang tanpa kita sadari,” ujar Umar.

Ajak Masyarakat Merauke Hindari Riba

Umar merasakan manfaat menjalankan bisnis tanpa riba. Dia lalu mengajak masyarakat Merauke melakukan hal serupa. Pegiat MTR di Merauke pun meningkat. Mereka kompak bersatu untuk menyadarkan masyarakat tentang bahaya utang dan riba. Tanpariba, hidup akan lebih tenang dan nyaman. Utang tetap harus dibayar, namun jika dijalani berdasarkan Alquran maka akan ada solusi.

“Jadikan pedoman hidup yang sebenar-benarnya, telaah petunjuk dan larangan yang terkandung di dalamnya, termasuk risiko riba yang luar biasa,” ucap dia. Dia menyadari bahwa mengajak masyarakat menjauhi riba butuh proses panjang. “Tidak usah ragu. Bersama MTR insyaAllah tidak akan salah jalan untuk meraih ketenangan dan keberkahan di masa mendatang,” ucapnya.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)